Seperti Bintang yang
enggan menampakkan sinarnya didepan Matahari. Perasaanku pun sama. Rinduku.
Semua tentangmu enggan ku buka diantara perasaan yang palsu. Aku hanya ingin
menikmati alunan perasaan ku didalam satu ruang dimensi yang tidak akan mampu
sembarang orang menjamah untuk masuk. untuk merasakan semua yang sudah ku tutup
rapat hingga tidak memiliki celah cahaya menembusnya. Tidak akan ada yang mampu
menembus cinta dalam diam ku. Karena aku sendiri tidak menginginkan sembarang
orang melihat. Kan ku biarkan perasaanku mengikuti irama dengan konsekuensinya
sendiri. Bahkan jika kamu pun tidak mampu menemukan perasaanku. aku tidak
akan pernah menyesal telah menyimpannya untukmu. aku tidak akan mengubah nya
menjadi kekecewaanku karena kamu tidak pernah melihat. Tapi bukan itu. Aku
sudah sangat bahagia menyimpan cinta dalam diamku sendiri dalam satu ruang
tanpa celah ini. Karena bukan untuk memiliki mu merupakan keberhasilanku. Tapi
menjaga nya tanpa seorang pun tau sudah cukup untukku. sudah cukup. ya cukup
untuk membuktikan hatiku :')
20 Oktober 2009
“Apa maksud kalian? Dengarkan ! Aku tidak pernah sekalipun ingin mengganggu suatu hubungan ! Apalagi kalian. Sahabatku ! Tidak ! Cukup kata kata mu tadi.” Kataku setengah membentak. Hatiku pun sakit. Sungguh sakit. Bagaimana mungkin orang terdekatku bisa menuduh aku mengganggu hubungan dia dengan kekasihnya.
Aku berlalu begitu saja membiarkan Kinal, Eliane dan Cleo berdiri termangu dengan perkataanku. Aku sudah terlalu sakit hati atas perkataan mereka. Meskipun Cleo menahanku untuk membicarakan hal ini baik baik. Rasanya cukup. Kenapa bisa bisanya Kinal langsung mengatakan hal serendah itu denganku ! Kenapa tidak dia tanya kan dulu dengan Juna, pacarnya. Ah bodoh sekali. Lebih bodoh jika aku harus menangis dihadapan mereka karena hal ini. Meskipun aku sendiri tidak bisa menafikan perasaanku yang diam diam tumbuh untuk Juna. Tapi masa bodoh. Aku tidak akan membiarkan orang lain untuk tau. Biarkan saja kusimpan tanpa celah dalam satu ruang.
Aku mengenal Juna beberapa bulan yang lalu ketika kita sama sama menjadi panitia suatu acara di sekolah. Ya kita memang satu sekolah, tapi aku belum pernah mengenal cowok itu yang sekilas ku nilai aneh. Aneh karena sikapnya yang dingin tapi bukan cuek. Aneh dengan tatapannya yang sangat tajam namun langsung tertuju ke mata yang ia tatap. Tapi apa boleh buat. Acara sekolah yang memaksaku untuk mengenalnya.
"Hei ! Ngapain masih berdiri dipintu? Masuk gih rapat mau mulai." sapanya membuyarkan semua lamunanku tentangnya. Aku pun masuk tanpa memperdulikan perkataan atau pikiran tentangku.
"Boleh aku duduk disini? yang lain penuh". Aku pun mengangguk memberikan tanda untuknya.
"Ah acara kayak gitu tuh buat apa? SMA lain juga bisa." Katanya mengomentari setengah berbisik. "Daripada acaranya cuma satu satu bulannya beda, mending sekalian aja ngirit dana sama tenaga"lanjutnya.
"ya kamu usul saja ke .....". sambungku belum selesai ku lihat dia berdiri melangkah ke depan.
"Rekan-rekan saya sangat setuju dengan usulan tersebut. Tapi saya punya usul bagaimana jika kita selain mengadakan basket and futsal competition kita juga mengadakan volley sama wallclimbing. Lagian kita sudah memiliki sarana prasarana yang cukup. Untuk masalah waktu kita ada kan satu bulan penuh. Target kita kali ini bisa untuk menemukan orang-orang yang memiliki bakat namun belum beruntung untuk ke profesional. bagaimana?"
"setujuuu" sahut anggota rapat bersamaan. "bagus juga tuh ide lo Jun" timpal beberapa orang.
Aku yang dari awal memperhatikan diam-diam merasa kagum dengan pemaparan dan perkataan yang keluar dari mulutnya. Begitu singkat namun sangat jelas dan berwibawa dalam penyampaian. Entah akan ada kejutan apa lagi dari orang yang terlihat sangat aneh ini namun tidak sinkron dengan gaya bicara nya ketika didepan banyak orang.
Juna. Nama yang akhirnya ku ketahui dalam rapat proja sekolah tersebut akhirnya membawaku ke dalam dimensinya. Kedekatan kita pun tidak berakhir dengan terselesainya acara tersebut. Malah semakin dekat dan berlanjut. Mungkin awalnya kita hanya saling iseng mengirim pesan lewat blackberry messanger sekedar menanyakan kabar. Namun hal itu ternyata hanya basa basi. Dia banyak cerita tentang kehidupannya. Dan aku pun sama begitu. Bahkan ketika jam istirahat kita tak segan untuk bareng ke kantin atau ngobrol didepan kelas. Ya, cowok yang awalnya ku anggap 'aneh' itu telah menyeretku kedalam dimensinya.
"Kin, kamu kenal Juna? katanya se SMP sama kamu." tanyaku pada Kinal yang sedang nyalin catatan biologi.
"Emang. Kenapa?"
"gapapa kok. Emang orangnya aneh gitu ya dari dulu."
"yaa gitu sih. kok bisa kenal?"
"Dulu pas jadi panitia se-seksi sama dia"
"oh."
Aku merasakan ada yang berbeda dengan Kinal kali ini. Tidak biasanya (kecuali sedang benar benar badmood) Kinal menjawab pertanyaanku dengan sesingkat itu. Biasanya masalah guru tidak memakai seragam yang sama dengan guru lainnya saja bisa menjadi topik seharian bagi Kinal. Ah sudahlah. Mungkin hanya perasanku saja.
Sejak pertanyaanku waktu itu dengan Kinal aku merasa aneh dengan sikapnya yang berubah. Kinal yang begitu dingin. Cleo dan Eliane juga seakan menyembunyikan sesuatu dibelakangku. Entah aku yang terlalu sensitif atau memang begitu adanya. Kita seakan semakin menjauh beriringan dengan kedekatanku dengan Juna. Tapi ku biarkan semua mengalir begitu saja mengikuti waktu. Mungkin yang mereka sembunyikan tidak ada hubungannya denganku. Toh jika berhubungan dengan ku dan Juna, Aku tidak merasa memiliki hubungan khusus dengannya. Ya meskipun entahlah apa yang ada didalam hatiku.
Dan hari ini semua pertanyaanku telah terjawab. Apa yang mengubah sikap Kinal. Apa yang telah disembunyikan Cleo dan Eliane aku kini mengerti. Tapi apa hingga seburuk itu mereka menilaiku tanpa bertanya baik-baik. Aku tidak mengerti. Aku merasakan sakit yang begitu dalam ketika mendengar ucapan mereka. Hati dan mataku terasa sangat panas dan seolah membendung air yang siap keluar seketika itu. Namun aku lebih memilih untuk pergi dari hadapan mereka. Aku tidak akan membiarkan orang melihatku menangis hanya karna sesuatu yang tidak aku lakukan.
Sebenarnya aku tidak sebuta itu melihat tajam tatapan Kinal ketika aku bersama Juna. Tapi masa bodoh. Saat ini aku tau Juna tidak memiliki ikatan hubungan dengan orang lain. Semua hanya teman. Jadi apa salahnya aku dekat dengannya? Tidak muluk-muluk yang membuatku nyaman berada didekat Juna. hanya tatapan matanya yang begitu tajam yang awalnya ku rasa sangat dingin ternyata begitu hangat. Cara mata coklatnya itu menatap. Aku tidak akan pernah lupa. Semakin hari kita tidak memerlukan banyak kata untuk saling bicara. Tapi dengan dua pasang bola mata yang saling menatap kita mulai bisa saling bicara dengan hati sebagai penerjemah.Hingga semakin dalam aku masuk kedalan satu ruang dimensinya.
Namun dengan kejadian ku dengan Kinal itu, aku lebih memilih untuk diam berbalik arah. Bukan karna aku tidak ingin mereka men-judge ku jelek. Tapi karna aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku seperti Kinal Cleo dan Eliane. Sungguh aku menyayangi mereka tulus dan aku pun tidak akan rela menukarnya dengan satu hati yang masih semu. Biarlah aku menyimpan ini semua dalam satu ruang dimensi yang berbeda. Biarlah aku menutupnya rapat tanpa celah. Biarlah aku menyimpanmu dalam diamku entah sampai kapan ku akan mampu.
03 Maret 2013
Langit terasa mendung. Meskipun bulan ini seharusnya kemarau sudah mulai menampakkan panasnya. Tapi sepertinya musim ingin menyamakan apa yang ada didalam batinku. Yaa. Batinku kini sedang terluka. tersayat dengan semua bentuk benda tajam. Entah itu tersayat dengan hati orang lain yang seperti duri ataupun tersayat oleh keadaan. Jika bisa batinku berteriak, aku akan berteriak sekencang-kencangnya membiarkan semua tekananini untuk keluar. Tapi sepertinya sulit.
Entah sudah berapa lama aku terjebak dalam lubang hitam tanpa setitik cahaya untuk ku melihat, ataupun setidaknya untukku memastikan ada tidakny jalan keluar yang bisa ku temukan dalam lubang hitam yang selalu membuatku menangis ketakutan. Aku tidak tau. Bahkan sepertinya aku telah mati rasa untuk merasakan apa yang ada di sekitar ku.
Sudah banyak hal ku lakukan untuk melupakan menghianatan dari orang yang baru saja ku kenal. Dari menghapus semua yang berhubungan dengan nya, hingga mencari kesibukan untukku agar ku tidak memiliki waktu untuk merenunginya. Hingga akhirnya ku akan menyerah, Tuhan mengirimkan keajaiban itu dalam satu competition wallclimbing.....
"Cessa" terdengar satu suara yang tidak asing menyebutkan namaku dengan sempurna. Aku masih berusaha cepat mencari darimana sumber bunyi itu. Sampai akhirnya aku menemukan sepasang bola mata yang lama hilang dan membuatku terdiam lama menatapnya....
"Apa kabar? Lama ya tidak ketemu. Aku dengar kamu pindah ke Paris waktu sekolah dulu ikut mama mu?" tanya nya sekali lagi.
"oh. kamu Juna. Iya, aku ikut mama tinggal di Paris" Ku katakan itu semua masih dengan tertegun. Apa ini mimpi? Apa benar yang kulihat sekarang? Sebenarnya bukan hanya itu alasanku untuk pergi jauh dari Indonesia. Tapi karena perasaan dan sahabatku. Ah sudahlah. cukup dalam hati aku menjawabnya. Tidak ada yang berubah darinya. Mungkin hanya dia agak sedikit tinggi dan kulitnya yang sawo matang karna mungkin terbakar matahari. Selain itu rasanya tidak ada yang berubah. Caranya ia menatap. Begitu tajam, dalam dan hangat. dan itulah yang aku suka.
"Masih sering ikut wallclimbing ya?"
"Gak juga. Cuma iseng kok ga ada kesibukan. Menghibur diri juga"
"oh, sibuk gak sekarag? makan yuk" ajaknya sambil menatapku lembut. Aku hanya menundukkan kepala memberinya kode jika aku setuju. ah entah, apa rencana Tuhan kali ini.
Aku tidak tau apa hanya aku yang merasakan atau Juna pun sama, aku tidak tau. Aku merasa sangat dingin percakapanku dengannya. atau mungkin memang begini efek lama tidak bertemu. Apalagi pertemuan terakhirku dengannya berakhir kurang baik.
"Masih sering kontak sama Kinal, Cleo,Eliane gak?"
"Masih kok. Kemarin baru aja nonton sama mereka."
"oh bagus. gimana paris?" Tanyanya antusias. Namun tidak begitu dengan ku. Luka yang ku tinggal dikota impian banyak orang itu. Luka yang membuatku lemah dengan kenangan. Aku tidak pernah mengerti. Raut wajahku berubah seketika. Dan ketika Juna melihatnya dia hanya berbicara "tidak perlu kamu bercerita jika itu tidak ingin kau ingat".
Pertemuan kita pun berlanjut. Pada hari berikut sorenya Juna mengajaku ke suatu tempat. Pantai tepatnya. Mungkin Juna tau, seberapa pahit kenanganku di Paris, Pantai tidak akan membuatku merasakan sakitnya untuk mengais masa laluku.
Tidak banyak kata yang kita berdua ucapkan. Mungkin Juna membiarkanku bercerita dengan desiran ombak ditepi pantai. Kita berdua duduk berdampingan diatas tanggul. Menatap kosong laut lepas. Ingin rasanya aku menangis seketika itu. Namun genggaman erat tangan Juna membuatku tidak ingin mengalah dalam keterpurukan ku selama ini.
Ku sandarkan kepala ku di atas pundaknya. Ia tidak melakukan apa apa. Hanya menatapku lalu tetap menggenggam erat jemariku dan mmembiarkan ku mengikuti alunan desir ombak. Cukup lama. Hingga matahari mulai turun untuk siap berselimut. Juna kembali menatapku dalam, hingga akhirnya ia mengajaku untuk turun menyapa ombak. Aku pun mengikutinya.
"yaah basaah" aduku dengannya.
"haha, yaudah sini aku gendong" tawarnya kepadaku.
"Enggak, aku berat loh nanti kamu ga kuat"
"tenang aja. kuat kuat. udah sini naik"
Aku pun naik diatas punggung nya. Punggung yang selama ini hanya bisa ku pandangi ketika ia menaiki wallclimbing, sekarang aku bisa memeluknya. Tuhaan, seharusnya ini bisa ku rasakan 4 tahun laluuu.
"Kamu tau Cessa? tidak pernah aku menemukan wanita setegar kamu tapi cengeng"
"Maksud kamu?"
"Biasanya kalo ada anak yang cengeng itu mintanya dijeburin ke laaaut" seketika itu Juna menjatuhkanku ditengah air laut. Basah.
"Ah jahat banget siiih. asin nih" rengekku.
"Siapa bilang air laut manis? duduk yuk" ajaknya sambil menarik tanganku.
Dua pasang bola itu mulai saling menatap. Berbicara tanpa kata dengan hati sebagai penerjemah. Sungguh. Baru kali ini aku sebahagia ini setelah empat tahun dalam lubang hitam. Duduk ditengah sapuan ombak. Dihadapan orang yang pertama kali menyentuh hati ku. Di depan sunset pantai. Merasa sangat berarti dengan genggaman erat yang enggan ku lepaskan lagi. Aku tidak pernah berhenti mencitaimu. Meskipun kemarin aku sempat bersama orang lain. Aku tidak menulisnya pada satu buku denganmu. Dan kini aku ingin melanjutkan tulisan itu. Menjadikan masa lalu ku menjadi masa depanku.