Jumat, 16 Januari 2015

Tulisan tanpa judul

Banyak orang mengatakan sahabat itu orang yang sangat penting dan berharga seperti saudara. Bagaimana tidak? Sahabat menjadi orang yang sering mendengarkan keluh kesah kita, kita sering meminta pendapatnya, dan dia mungkin salah satu orang yg lebih tau tentang kita setelah orang tua dan saudara kandung.
Selain itu, setiap orang pasti memiliki pandangannya sendiri tentang persahabatan.  Persahabatan itu sebuah hal yang kompleks. Mungkin dari pandangan awalnya terasa berlebihan. Tapi, kenyataanya memang demikian.
Banyak sedikit persahabatan saling mempengaruhi kepribadian, tapi mungkin tidak banyak persahabatan yang bisa membawa ke surga seperti layaknya persahabatan antara Rosulullah dan Abu Bakar atau Umar bin Khatab.
Lalu bagaimana persahabatan kita bisa membawa kita ke surga?
Menurut saya, urusan ke surga atau neraka keputusan Allah. Manusia hanya bisa melakukan apa yang Allah cintai. Termasuk mengenai persahabatan. Karena persahabatan bisa membawa manusia ke surga atau neraka, hendaklah memilih sahabat menurut agamanya. Seperti yang Imam Syafi'i katakan :  "
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman 'baik' itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali".

Sahabat yang baik adalah muslim & mu'min yang saling memperhatikan satu sama lain. Jika temannya bersedih maka satunya menghibur, menyemangati. Antara satu sama lain saling menasihati, mencegah untuk berbuat maksiat dan mengajak kepada ketaatan kepada Allah SWT.

Sahabat yang baik adalah yang mengajak belajar bersama untuk dekat dengan Allah. Yang mengajak berlomba lomba untuk dekat dengan Allah. Yang tidak pernah bosan saling mengingatkan untuk dekat dengan Allah. Dan tentunya yang tidak rela sahabatnya jauh dari Allah.

Dan banyak rangkaian kejadian akan menunjukkan siapa kawan,  dan siapa saja yang benar-benar
sayang kepadamu.

Sebuah sentuhan kecil yang bersumber dari akhlak yang mulia. Tulus, tiada dusta, sarat akan makna. Dua insan yang dapat bersatu meski awalnya tiada bertemu. Pada akhirnya, syukur atas rahmat Allah lah yang menjadi hiasan.
 
-Mohon maaf jika tulisan masih banyak kesalahan dan kekurangan dari berbagai segi. Terimakasih untuk orang yang telah bersedia membagi pengetahuannya dan maaf jika mungkin ada yang tidak sesuai yang pemilik ide awal miliki. 
Semoga tetap dapat menyampaikan hal yang bermanfaat, karena kemanfaatan jika menyebar kepada yang lain lalu kelainnya lagi, maka semoga pahalanya menjadi pahala terus mengalir yang berkah dan tentunya pada apa yang dituliskan adalah kebenaran dan penuh dengan kemanfaatan. Semoga kesalahan dan ketidaksempurnaan pengetahuan yang ditulis dimaafkan Allah. Bukankah apa yang kita perbuat nanti di akhirat akan dipertanggung jawabkan.

Senin, 12 Januari 2015

Jangan tinggalkan aku sendiri....

7 tahun lalu...
Dua orang gadis kecil terlihat bermain bersama. Jemari keduanya masih sangat mungil. kulit mereka tidak begitu putih ataupun hitam, sawo matang, ciri khas warna kulit orang Indonesia. Sang kakak, yang berusia sekitar 4 tahun berusaha menggendong adeknya yang berusia sekitar 2 tahun. Lucu. Kata orang, mereka berdua bersama ayahnya baru datang dari Jakarta karena ibunya meninggal. Innalillahi.
 Rika, panggilan sang kakak selalu mengajak adeknya, Rindu bermain-main. Meskipun dia pendatang dan tidak begitu fasih bahasa jawa, dia berusaha berbaur dengan anak seusianya. Rika selalu menggendong adiknya ketika bermain diluar rumah. Bisa dibayangkan anak berusia 4 tahun menggendong seorang berusia 2 tahun. Susah. Tapi menyenangkan bagi Rika !
Ayah Rika hanya pekerja bangunan, dan ketika dia berada disini itu berarti dia tidak bekerja, tidak memiliki uang. Hanya mengandalkan belas kasih saudara-saudaranya mereka bisa makan disini. Bukan karena malas ayah Rika tidak mau bekerja, bukan. Tapi ayah Rika tidak bekerja karena tidak ada yang mengasuh Rika dan Rindu. Itu juga alasan mereka untuk kembali ke kampung halaman.
Tidak banyak yang tahu kenapa Ibu Rika meninggal, dan ketika Rika yang berusia 4 tahun itu ditanya banyak orang, yang dia tahu ibunya sakit, lalu meninggal. Tapi dibalik itu semua ini semua takdir Allah.
Banyak yang kasihan kepada Rika dan adeknya. dan banyak pula tetangga-tetangga memberikan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk Rika dan Rindu. Mereka juga sering memberikan sedikit uang untuk jajan.
Rika dan Rindu yang masih anak-anak menikmati semuanya. bermain. Tidak banyak yang mereka mengerti saat ini. Mungkin kadang yang membuat mereka sedih, mereka tidak bisa memiliki baju yang bagus seperti kebanyakan temannya, tidak memiliki banyak mainan, dan tidak memiliki ibu yang menyuapi mereka untuk makan....
Dua tahun pertama sangat menyenangkan bagi mereka. Memiliki banyak teman baru. ya meskipun kadang ada yang menganggunya tapi masih banyak teman baik yang juga mau berbagi mainan untuk dipinjamkan. Sudah sekitar setahun Ayah Rika bekerja serabutan. Alasannya melihat Rika yang sudah mampu mengasuh adiknya dan juga untuk kebutuhan Rika dan Rindu. Dan setelah dua tahun tinggal disini, Ayahnya berpikir untuk kembali ke Jakarta. Ya, hanya dengan itu bisa menghidupi Rika dan Rindu dengan layak nantinya. Bisa bersekolah, memakai seragam, sepatu, tas.
Tahun berikutnya, setelah Ayah Rika berpikir keras selama setahun, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Hari pertama kepergian ayah membuat Rika sangat murung. Dia hanya bisa menangis. Memang saat ini dia bahagia bisa sekolah seperti temannya yang lain,tapi dia lebih rela tidak bersekolah asal bisa tetap bersama ayah.. dan Rindu.
Kemarin ayah dengan berat hati menjelaskan bahwa ia harus kembali ke Jakarta biar Rika dan Rindu bisa hidup layak, bisa bersekolah. Ayah akan membawa Rindu, karena tidak mungkin Bude merawat Rika dan Rindu sekaligus. Dan Rika disini harus bersekolah yang rajin.
Itulah pesan beliau saat terakhir kali Rika merasakan pelukan ayah. Dia ditinggalkan. Sendiri. Sampai sekarang.
---
Apa ada yang pernah merasakan berada diposisi Rika atau  Rindu? atau mungkin membayangkan kisah yang mirip seperti itu?
Hmm.. jika belum, mungkin karena kamu terlalu menutup diri, atau mungkin kamu terlalu sibuk dengan urusanmu, atau mungkin kamu merasa memiliki masalah yang lebih besar, benar tidak?
kisah Rika dan Rindu tidak imajinasi atau fiksi yang biasa dibuat di sinetron. Dia ada. Nyata.
Bagaimana jika kalian berada diposisi Rika? umur 4 tahun, disaat teman sepantarannya disuapin ibunya, dia malah yang harus menyuapi adiknya. Umur 7 tahun dia harus bertahan sendiri, jauh, tanpa Ayah dan adik. Iya meskipun ada banyak saudara yang berada disekitarnya, pastilah kasih sayang yang dirasakan berbeda jika bersama orangtua sendiri kan? 
Apa kalian yang sekarang merasa memiliki masalah yang sangat besar mau ditukar dengan yang Rika hadapi dulu? tidak kan? 
Jangan mengeluh ! Seberat apapun masalah kita Allah lebih tau porsinya. 
satu mantra yang kadang menguatkan ketika aku merasa sangat lelah, 
"Tuhan-ku lebih Besar dari masalahku"

Rika... Apapun yang telah dan akan kamu hadapi, semoga akan menjadikanmu anak yang sholehah. Semoga kamu akan menjadi anak yang beruntung dimasa depanmu :)

Sabtu, 10 Januari 2015

Keberkahan waktu...

Tulisan kali ini berasal dari  broadcast yang saya dapatkan. Tapi tidak ada salahnya, karena menurut saya ilmu yang berkah adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Dan ilmu dapat bermanfaat bagi orang lain itu ketika kita membaginya.
Kasus 1
A : Minggu depan nonton yuk..
B : Ayook....
A : Emmm tapi bukannya udah mau ujian ya
B : Kan nonton sekali-sekali, belajarnya masih bisa di waktu lain kok
--
A : Eh Minggu depan ngaji yuk...
B : Waduh maaf nih ujian semester udah deket
A : Ngajinya sebentar kok
B : Emmm... tapi masih banyak banget materi ujian yang belum paham
Kasus 2
A : (via phone) Sob maaf gerimis nih, maen futsalnya minggu depan aja ya
B : Yaelah cuma gerimis kecil, entar kujemput pake mantel
--
A : (Via phone) jadi ikut ngaji hari ni?
B : Aduh kayaknya cuaca ga dukung nih, udah mulai gerimis
A : kujemput pake mantel ya..?
B : Emmm... ga usah, lagian ga nyaman nanti ngajinya kalo bajunya agak basah-basah gitu
Kasus 3
A : Pokoknya aku harus bisa wisata keliling nusantara, korea, dan jepang
B : jauh amat wisatanya?
A : Iya dong, kalo mau liat tempat indah memang harus jauh melangkah
--
B : Besok ikut pengajian yuk
A : Dimana?
B : Itu, di masiid samping kampus kita
A : Wah jauh amat...
Kasus 4
A : hari minggu shoping yuk
B : Ayuk pas banget nih
A : eh tapi hari minggu kan jadwalnya dirimu beres-beres rumah
B : Tenang aja, hari lain juga bisa kok.
--
A : Minggu ngaji yuk
B : Kalo minggu jadwal aku beres-beres rumah
A : Beres-beresnya hari lain aja, entar aku bantuin
B : Hari lain aku sibuk
Lihat pintarnya setan meniupkan alasan ketika kita hendak dekat pada ilmu Allah, dan ketika untuk urusan dunia alasan itu entah hilang kemana.
APAKAH KITA ORANG SIBUK ???
Ada seorang ulama berguru kepada seorang ulama  Selang beberapa lama, saat dia ingin
melanjutkan belajar ke guru lain.gurunya berpesan :
"Jangan tinggalkan membaca Al Qur’an ,Semakin banyak baca Al Qur’an urusanmu semakin mudah"
Dan muridnya pun melakukan. Dia membaca Al Qur’an 3 juz per hari. Dia menambahkan hingga 10juz per hari. Dan urusannya semakin mudah. Allah yang mengurus semua urusannya. Waktu pun semakin berkah.
Apa yang dimaksud dengan berkahnya waktu?
Bisa melakukan banyak hal dalam waktu sedikit. Itulah berkah Al Qur’an . Al Qur’an membuat kita mudah mengefektifkan manajemen waktu. Bukan kita yang atur waktu kita, tapi Allah. Padahal teorinya orang yang membaca AlQur’an menghabiskan banyak waktu. mengurangi jatah kegiatan lain, tapi Allah yang membuat waktunya itu jadi berkah. Hingga menjadi begitu efektif.Hidup pun efektif.Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah dan kebaikan pada kita karena Al Qur’an .
Salah satu berkahnya adalah membuka pintu kebaikan, membuka kesempatan untuk amal shalih berikutnya. Dan Salah satu balasan bagi amal shalih yang kita lakukan adalah kesempatan untuk amal
baik berikutnya. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu Dan sebaliknya waktu yg selalu sibuk shg hanya habis untuk urusan dunia yg terserak, bisa jadi itu adalah tandanya ada yg salah dlm hidup kita,
Barangsiapa yg bangun di pagi hari dan hanya dunia yg di pikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat HAK ALLAH dalam dirinya, maka ALLAH akan menanamkan 4 macam penyakit padanya :
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya.
3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi.
4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya.
[Hadits Riwayat Muslim]
Note :
"Keberkahan waktu yaitu bisa melakukan banyak amal kebaikan dalam waktu sedikit"

Mari saling berbagi ilmu , saling mengingatkan, dan saling berlomba dalam kebaikan :)

Kamis, 01 Januari 2015

Sebuah senyuman



Mentari  selalu menghangatkan. Mencairkan kebekuan yang ada disekitarnya. Mentari memiliki sebuah pohon yang selalu membantunya. Bukan membantu, tapi mengajarkannya untuk berbuat kebaikan saat mentari belum memiliki pengetahuan.
Dulu, pohon selalu memperlihatkan kepada mentari tentang senyuman orang lain. Yang sering mentari lihat, pohon sering mematahkan rantingnya untuk orang lain meskipun dia sendiri kesakitan. Lalu mentari bertanya, “Pohon kenapa kamu mematahkan rantingmu pasti itu sakit bukan?”
Pohon pun menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku lebih kesakitan ketika melihat nenek itu jatuh terpleset karena tidakmemiliki pegangan.”
“Nenek itu bisa memegang tembok ataupun kayu-kayu itu tanpa membawanya. Aneh.”
Sang nenek pun senang menemukan ranting yang kebetulan jatuh didepannya.
Lalu pada hari berikutnya, pohon dengan sengaja mengulurkan daunnya kebawah. Dan ibu yang dengan menggendong tas kresek itu meraih dan memasukan daun-daunnya.
Mentari pun bertanya, “Pohon, apa yang kamu lakukan? Itu bisa membuatmu mati.”
“Tidak. Sama sekali tidak. Daunku pasti akan tumbuh lagi. Dan kalaupun tidak, aku lebih sedih jika melihat ibu itu pulang dengan kresek kosong dengan anaknya yang menunggunya dirumah kelaparan.”
“ah kamu ini terlalu keras kepala.”
Lalu dikemudian hari pohon menjatuhkan sebuah buah dan beberapa tupai dan burung mengerubungi buah yang jatuh itu,
“pohon, apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu tidak akan bisa mempunyai keturunan jika burung-burung itu memakan isinya?”
“tidak, sama sekali tidak. Aku masih mempunyai banyak buah dan biji. Sekalipun burung-burung itu menghabiskannya, yang terpenting aku masih bisa melihat mereka bermain dan bernyanyi.
Lalu di hari berikutnya, pohon melihat dua orang anak kecil bermain main, dan pohon dengan sengaja memekarkan bunganya. Dan dua orang anak itu memetiknya. Namun kali ini mentari tidak bertanya dan membuat pohon heran.
“mentari, kenapa kamu tidak bertanya?”
“tidak. Aku capek bertanya. Kamu terlalu keras kepala.”
“Hahaha.... begini mentari. Apa kamu memerhatikan wajah dua anak kecil tadi? Atau burung-burung dan tupai itu? Atau ibu-ibu yang membawa kresek? Atau mungkin nenek-nenek yang dulu itu?”
“tidak. Tidak ada yang istimewa dengan wajah mereka.”
“Ada. Senyuman. Mereka selesai mengambil apa yang aku jatuhkan pasti akan tersenyum. Aku tidak butuh ucapan terimakasih karena itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku. Tapi dengan melihat mereka tersenyum, itu akan dilihat Allah sebagai doa untukku.”
“Hmmm...” mentari pun murung.
“ada apa mentari?”
“lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? aku tidak memiliki apapun untuk mereka seperti kamu pohon”
“tidak. Kamu memilikinya dan lebih dari yang bisa aku berikan. Kamu hanya perlu Teruslah bersinar dan menghangatkan. Dan seisi bumi ini akan selalu mendoakanmu”

Pohon-ku, meskipun tidak banyak mata melihatmu, atau pun tidak banyak mulut yang mengucapkan pujian ataupun terimakasih, aku percaya Allah selalu mencatatnya. Maaf telah banyak bertanya. Maaf telah sering meminta untuk berhenti membuat orang lain tersenyum. Semoga Allah selalu menyayangimu dan melindungimu, Bapak.