Kamis, 01 Januari 2015

Sebuah senyuman



Mentari  selalu menghangatkan. Mencairkan kebekuan yang ada disekitarnya. Mentari memiliki sebuah pohon yang selalu membantunya. Bukan membantu, tapi mengajarkannya untuk berbuat kebaikan saat mentari belum memiliki pengetahuan.
Dulu, pohon selalu memperlihatkan kepada mentari tentang senyuman orang lain. Yang sering mentari lihat, pohon sering mematahkan rantingnya untuk orang lain meskipun dia sendiri kesakitan. Lalu mentari bertanya, “Pohon kenapa kamu mematahkan rantingmu pasti itu sakit bukan?”
Pohon pun menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku lebih kesakitan ketika melihat nenek itu jatuh terpleset karena tidakmemiliki pegangan.”
“Nenek itu bisa memegang tembok ataupun kayu-kayu itu tanpa membawanya. Aneh.”
Sang nenek pun senang menemukan ranting yang kebetulan jatuh didepannya.
Lalu pada hari berikutnya, pohon dengan sengaja mengulurkan daunnya kebawah. Dan ibu yang dengan menggendong tas kresek itu meraih dan memasukan daun-daunnya.
Mentari pun bertanya, “Pohon, apa yang kamu lakukan? Itu bisa membuatmu mati.”
“Tidak. Sama sekali tidak. Daunku pasti akan tumbuh lagi. Dan kalaupun tidak, aku lebih sedih jika melihat ibu itu pulang dengan kresek kosong dengan anaknya yang menunggunya dirumah kelaparan.”
“ah kamu ini terlalu keras kepala.”
Lalu dikemudian hari pohon menjatuhkan sebuah buah dan beberapa tupai dan burung mengerubungi buah yang jatuh itu,
“pohon, apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu tidak akan bisa mempunyai keturunan jika burung-burung itu memakan isinya?”
“tidak, sama sekali tidak. Aku masih mempunyai banyak buah dan biji. Sekalipun burung-burung itu menghabiskannya, yang terpenting aku masih bisa melihat mereka bermain dan bernyanyi.
Lalu di hari berikutnya, pohon melihat dua orang anak kecil bermain main, dan pohon dengan sengaja memekarkan bunganya. Dan dua orang anak itu memetiknya. Namun kali ini mentari tidak bertanya dan membuat pohon heran.
“mentari, kenapa kamu tidak bertanya?”
“tidak. Aku capek bertanya. Kamu terlalu keras kepala.”
“Hahaha.... begini mentari. Apa kamu memerhatikan wajah dua anak kecil tadi? Atau burung-burung dan tupai itu? Atau ibu-ibu yang membawa kresek? Atau mungkin nenek-nenek yang dulu itu?”
“tidak. Tidak ada yang istimewa dengan wajah mereka.”
“Ada. Senyuman. Mereka selesai mengambil apa yang aku jatuhkan pasti akan tersenyum. Aku tidak butuh ucapan terimakasih karena itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku. Tapi dengan melihat mereka tersenyum, itu akan dilihat Allah sebagai doa untukku.”
“Hmmm...” mentari pun murung.
“ada apa mentari?”
“lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? aku tidak memiliki apapun untuk mereka seperti kamu pohon”
“tidak. Kamu memilikinya dan lebih dari yang bisa aku berikan. Kamu hanya perlu Teruslah bersinar dan menghangatkan. Dan seisi bumi ini akan selalu mendoakanmu”

Pohon-ku, meskipun tidak banyak mata melihatmu, atau pun tidak banyak mulut yang mengucapkan pujian ataupun terimakasih, aku percaya Allah selalu mencatatnya. Maaf telah banyak bertanya. Maaf telah sering meminta untuk berhenti membuat orang lain tersenyum. Semoga Allah selalu menyayangimu dan melindungimu, Bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar