Mentari selalu
menghangatkan. Mencairkan kebekuan yang ada disekitarnya. Mentari memiliki
sebuah pohon yang selalu membantunya. Bukan membantu, tapi mengajarkannya untuk
berbuat kebaikan saat mentari belum memiliki pengetahuan.
Dulu, pohon selalu memperlihatkan kepada mentari tentang
senyuman orang lain. Yang sering mentari lihat, pohon sering mematahkan
rantingnya untuk orang lain meskipun dia sendiri kesakitan. Lalu mentari
bertanya, “Pohon kenapa kamu mematahkan rantingmu pasti itu sakit bukan?”
Pohon pun menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku lebih
kesakitan ketika melihat nenek itu jatuh terpleset karena tidakmemiliki
pegangan.”
“Nenek itu bisa memegang tembok ataupun kayu-kayu itu tanpa
membawanya. Aneh.”
Sang nenek pun senang menemukan ranting yang kebetulan jatuh
didepannya.
Lalu pada hari berikutnya, pohon dengan sengaja mengulurkan
daunnya kebawah. Dan ibu yang dengan menggendong tas kresek itu meraih dan
memasukan daun-daunnya.
Mentari pun bertanya, “Pohon, apa yang kamu lakukan? Itu bisa
membuatmu mati.”
“Tidak. Sama sekali tidak. Daunku pasti akan tumbuh lagi.
Dan kalaupun tidak, aku lebih sedih jika melihat ibu itu pulang dengan kresek
kosong dengan anaknya yang menunggunya dirumah kelaparan.”
“ah kamu ini terlalu keras kepala.”
Lalu dikemudian hari pohon menjatuhkan sebuah buah dan
beberapa tupai dan burung mengerubungi buah yang jatuh itu,
“pohon, apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu tidak akan bisa
mempunyai keturunan jika burung-burung itu memakan isinya?”
“tidak, sama sekali tidak. Aku masih mempunyai banyak buah
dan biji. Sekalipun burung-burung itu menghabiskannya, yang terpenting aku
masih bisa melihat mereka bermain dan bernyanyi.
Lalu di hari berikutnya, pohon melihat dua orang anak kecil
bermain main, dan pohon dengan sengaja memekarkan bunganya. Dan dua orang anak
itu memetiknya. Namun kali ini mentari tidak bertanya dan membuat pohon heran.
“mentari, kenapa kamu tidak bertanya?”
“tidak. Aku capek bertanya. Kamu terlalu keras kepala.”
“Hahaha.... begini mentari. Apa kamu memerhatikan wajah dua
anak kecil tadi? Atau burung-burung dan tupai itu? Atau ibu-ibu yang membawa
kresek? Atau mungkin nenek-nenek yang dulu itu?”
“tidak. Tidak ada yang istimewa dengan wajah mereka.”
“Ada. Senyuman. Mereka selesai mengambil apa yang aku
jatuhkan pasti akan tersenyum. Aku tidak butuh ucapan terimakasih karena itu
tidak akan berpengaruh apa-apa untukku. Tapi dengan melihat mereka tersenyum,
itu akan dilihat Allah sebagai doa untukku.”
“Hmmm...” mentari pun murung.
“ada apa mentari?”
“lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? aku tidak
memiliki apapun untuk mereka seperti kamu pohon”
“tidak. Kamu memilikinya dan lebih dari yang bisa aku
berikan. Kamu hanya perlu Teruslah bersinar dan menghangatkan. Dan seisi bumi
ini akan selalu mendoakanmu”
Pohon-ku, meskipun tidak banyak mata melihatmu, atau pun
tidak banyak mulut yang mengucapkan pujian ataupun terimakasih, aku percaya
Allah selalu mencatatnya. Maaf telah banyak bertanya. Maaf telah sering meminta
untuk berhenti membuat orang lain tersenyum. Semoga Allah selalu menyayangimu dan melindungimu,
Bapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar