Selasa, 23 Desember 2014

Kangen Dita kecil….



Enam belas tahun lalu aku mulai mengerti banyak hal. Meskipun tidak semuanya teringat jelas, tapi ada beberapa keping teringat samar. Bapak memberikan kebebasan kepada putri kecilnya ini untuk belajar sendiri tentang banyak hal. Beliau hanya memberikan pengetahuan yang tidak boleh dilakukan, dan ketika aku melakukan hal yang berlebihan, bapak memberikan batasan. Bapak tidak pernah lelah untuk mengingatkan putri kecilnya ini.
Di saat anak-anak kecil dilarang bermain hujan, aku tidak pernah melewatkannya. Bapak membiarkan aku menari-nari diatas air. Membiarkan air hujan menyiramku, menghujamku dari atas langit. Ini sangat menyenangkan !
Bapak mengajarkanku mengayun sepeda beberapa kali. Setelah itu membiarkan aku belajar sendiri. Aku teringat, dulu saat aku belajar sepeda didalam rumah aku menyiapkan kasur lipat. Bukan untuk jaga –jaga kalo jatuh, tapi untuk sengaja menjatuhkan diri. Hahaha :D sungguh gilanya Dita kecil.
Dibanding teman-temanku, aku memiliki lebih banyak teman. Karena biasanya yang menjadi temannya temanku kemudian menjadi temanku juga, tapi yang menjadi temanku, belum pasti menjadi teman temanku yang lain. Saat umur 2 tahun, aku memiliki banyak kakak-kakak yang menjadi temanku. Rembang. Mereka selalu menjagaku, mengajaku bermain, memanjakan aku seolah olah aku adik bungsu mereka :D bahkan sampai sekarang, 16 tahun kemudian, mereka tetap menjadi kakak-kakakku meskipun tidak ada darah yang sama diantara kita.
Tahun berikutnya aku memiliki lebih banyak teman baru yang seumuran. Bagaimana pengalaman kalian pertama sekolah? Aku yakin tidak ada yang memiliki pengalaman yang sama denganku. Aku berangkat sekolah sendiri tanpa bapak ibu seperti kebanyakan anak-anak berumur 3 tahun. Malam sebelumnya aku bilang sama ibu, “Bu, besok aku mau sekolah sama mas Aap”. Tapi ya begitu, omongan anak kecil Cuma dianggap cerita biasa saja. Setelah tiga hari bersekolah dengan teman-teman baru, ibu baru sadar, anaknya selama ini sekolah tapi belum daftar. Hahaha :D bagaimana? Ada yang memiliki cerita sama?
Tiga tahun berikutnya aku pindah untuk ketiga kali. Dengan lebih banyak teman baru dan keluarga baru tentunya. Dua belas tahun lalu aku memiliki dua mbak baru sampai sekarang :D sebenarnya banyak cerita yang tidak cukup dengan kata-kata untuk digambarkan.
Bapak membiarkan aku belajar banyak dan benar pengalamanku pun menjadi sangat banyak dan mungkin paling banyak diantara anak-anak seumuranku. Bersekolah, berantem, nangis itu udah jadi biasa. Bahkan suatu ketika (mungkin sering) aku bentrok dengan teman-teman satu kampung. Whahaa. Seperti bentrok di tv, kita saling lempar batu, dan pada akhirnya aku juga yang nangis. Wkwk tapi hari berikutnya entah kenapa aku pun sekarang menjadi heran, kami bisa main bareng lagi. Bermain sepak bola, kasti, tembak-tembakan, jotos-jotosan wkwk.
Banyak teman cowok bukan berarti tidak memiliki teman cewek. Aku memiliki banyak teman baik cowok maupun cewek, tapi untuk sahabat aku memiliki 4 sahabat cewek. Meskipun ada persaingan diantara kami berempat, tapi kami tetap kompak sampai sekarang. Yaa ada naik turunnya lah persahabatan kami sampai sekarang.
Banyak teman cowok juga tidak ada ruginya. Berada diantara mereka aku merasa seolah menjadi tuan putri, ketika ada orang lain menyakitiku, aku memiliki banyak tameng yang selalu siap melindungi. Whahaha :D
Waktu disekolah pun selalu indah menurutku. Kelasku hanya memiliki 21 anak didik. 10 cowok dan 11 cewek. Aku tidak suka duduk berdua karena membuat bangku menjadi sempit. Teman-temanku juga sering main kerumah. Belajar. Tapi Dita kecil tidak pernah membuat hari-harinya belajar dengan cara yang membosankan. Aku memaksa teman-temanku jika ingin belajar bareng harus mau main sepak bola dulu. Dan alhasil mereka dengan setengah terpaksa bermain haha :D dulu waktu belajar luas dan volume bapak memotong bola kami untuk menjadi alat peraga, dan kami pun mengerti dengan cepat. Hebat sekali bapak !
Di tahun terakhir aku SD bapak membeli mobil bekas angkutan. seneng ! mobil itu serba guna, tidak hanya bisa jalan, ketika diparkir didepan rumah aku menaiki atapnya untuk mengambil rambutan. Hahaha :D sebenernya dulu pun kalo mau ambil rambutan aku sering naik genteng melewati batang-batang pohon. Oh ya, Dita kecil memiliki satu pohon yang sangaaaaaaat istimewaaaa. Pohon itu dulunya satu-satunya di kampungku (mungkin). Jadi banyak anak yang ketika pohon itu berbuah ingin sekali mengambilnya. Pohon cokelat. Aku sering menghabiskan waktu diatas pohon itu, duduk, berimajinasi, membaca, bahkan tidur ! dan yang terakhir itu pengalaman terdramatis dengan si cokelat. Kenyamanan tidur membuat lupa kalo diatas pohon, dan akhirnya jatuh. Ckckck
Mobil ajaib itu sering membawa aku dan 20 temanku jalan-jalan. Dulu saat lebaran bapak menawarkan untuk mengantarkan berkunjung ke rumah guru-guru. Aku sebenarnya ragu. Karena saat hanya aku dan bapak saja yang menaiki mobil itu aku selalu menutup mata, ngeri, maklumlah itu baru awal bapak bisa nyetir mobil. Tapi akhirnya aku meng-iyakan tawaran bapak. Dan pengalaman yang tidak pernah kami lupakan diperjalanan itu, si mobil ajaib mogok ditengah jalan menanjak yang miriiiiiiiiing sekaliiii. Ngeriii meeeen. Untunglah semua selamat wkwk. Mobil ajaib juga pernah mengajak kami ziarah dan ke pantai bersama 20 orang temanku. Sungguh ! semua kebersamaan bersama mobil ajaib, bapak, dan 20 temanku itu tidak pernah terlupakan bagi Dita kecil haha :D Bahkan sampai sekarang, jika teman-temanku bermain kerumah dan bertemu bapak, kami selalu mengingat itu. Tidak ada orang tua sehebat Bapak yang mau meluangkan waktu bersama putrinya dengan 20 orang temannya ! bagaimana? Apa bapak kalian bisa menandingi bapak Dita kecil? Tapi tidak masalah, pasti bapak kalian juga hebat dengan caranya sendiri.
12 tahun tidak waktu yang singkat. Banyak pelajaran yang menjadikan Dita kecil tumbuh seperti sekarang. Aku tidak pernah menyesal terlahir menjadi Dita dan memiliki bapak yang sedikit cerewet dan terlalu sayang dengan putrinya. Masih banyak cerita yang tidak bisa diungkapkan dengan apapun. Semua tersimpan rapi dan aku sering membukanya mengenang lembar per lembar yang pernah aku alami. Terimakasih Bapak selalu memberikan kepercayaan kepada Dita untuk belajar lebih banyak dari pengalaman ketimbang teman-teman yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar