Ada satu pelajaran
yang mungkin baru aku pahami sekarang setelah 18 tahun, setiap proses memiliki
makna, mengajarkan sesuatu kepada kita, entah untuk saat ini langsung kita
dapat mengerti, entah besok, entah minggu depan, entah bulan depan, entah tahun
depan, ataupun entah kapan itu, pasti suatu saat kita akan mengerti apa maksud
dari proses yang kita alami.
Baru-baru ini aku
baru mengerti tentang perasaan.
Dimulai dari
beberapa bulan lalu ketika mulai merantau ke kota orang, ada satu pesan yang
cukup dan selalu terngiang dari bapak, “jaga hatimu, tidak usah dipikir, fokus
nuntut ilmu, tapi bukan berarti menutup”. Kalimat yang simpel namun memiliki
banyak makna tersirat.
Selama 18 tahun
sebelum hari itu, tidak pernah bapak menyinggung hal semacam itu. Memang hal
apapun tentang perasaan aku tidak pernah mendiskusikan itu dengan Bapak Ibu,
hehehe *malu laaah*. Beberapa hari
kadang aku berfikir tentang yang dikatakan bapak, apa sih maksud dari nasehat
itu. Masa’ iya orang tua tega lihat anaknya jomblo teruuus. Wkwk ah sudahlah.
Lalu aku bertemu
dengan dua wanita *yang mengatakan mereka mar’atus sholehah haha :D* . Jujur
saja mereka salah satu yang menginspirasiku untuk sampai mengerti dan menulis
ini. Dua sahabatku itu tidak pacaran, tapi mereka memiliki komitmen yang
intinya mereka akan saling menjaga perasaan sampai suatu saat nanti ketika
mereka udah sukses dan siap akan melanjutkan hubungan itu. Intinya seperti HTS
lah. Berkomitmen tanpa status, tanpa mengikat, tapi saling mendukung dan
menjaga perasaan masing-masing. Sungguh, itu awalnya membuatku iri. berhubungan tapi pada akhirnya pasti tidak akan ada yang tersakiti.
Sampai suatu ketika
ada yang aku anggap sedikit mengganjal dari apa yang mereka jalani saat ini.
Aku tanya dari salah satu mereka yang intinya hubungan kamu dan dia seperti apa
sih?
Dia mengatakan, ya
gitu, kami saling dukung satu sama lain, tapi sebisa mungkin kami jaga perasaan
biar gak terlalu jauh.
Lalu aku tanya lagi,
terus kalau dia hilang gimana? Apa kamu masih bisa sesemangat sekarang?
Dia jawab, ya
gapapa. Harus lah itu, kan udah komitmen dari awal untuk tetap jaga hati
masing-masing. Dan aku tau batesan perasaanku. Tapi kayaknya sekarang udah
lumayan juga sih….
Nah kan. selama ini yang aku tau semakin
terbiasa kita akan semakin nyaman akan semakin berat akan semakin sulit akan
semakin benar benar terjatuh loh… renungin aja yang aku omongin, atau mungkin
suatu saat kamu bakal ngerti sendiri.
Aku biarkan dia
mengartikannya sendiri. Hahaha. Entah kapan pasti dia akan mengerti. Pasti.
Sampai suatu hari,
kita bertemu lagi dan dia tiba tiba menceritakan yang intinya,
“Mungkin aku sekarang ngerti, kayaknya
aku salah selama ini”
Cukup kaget. Ternyata
yang aku omongin bener-bener jadi pikiran buat dia. Hahaha xD Antara ngerasa
bersalah sama seneng. Dia tanyain yang dia jalani selama ini sama orang lain juga.
Dan ini jawaban yang dia dapatkan.
Setiap tutur
kataku mungkin menyakitkan. Seperti yidak berperasaan. Seolah tidak mengerti
perempuan. Sangat menyebalkan. Setiap tindakanku mungkin terlihat
menjengkelkan. Seolah tidak memiliki kelemah lembutan. Seperti katamu,
menyebalkan.
Kamu hanya
tidak tahu. Aku memang sengaja menyebalkan. Agar kamu tidak menaruh apa-apa
didalam diriku, hatimu misalnya. Aku tidak akan bersikap hangat dan terlalu
ramah, kamu bukan siapa-siapa kan? Aku tidak akan sembarang memberi perhatian. Meski
kamu menuntut diperhatikan. Tapi siapa kamu? Teman hidupku? Bukan.
Ku jaga
kamu dengan demikian. Jangan paksa aku untuk membuatmu jatuh hati. Jangan menitipkan
apapun ditanganku karena aku bisa saja mematahkannya. Jangan memaksaku untuk
begitu lemah lembut karena itu hanya untuk teman hidupku.
Aku menyebalkan
bukan?
Memang.
Dan pada
akhirnya dia mulai menjaga batasan-batasan itu lagi.
Tidak Cuma itu
kejutan hari itu, sahabat satunya yang menjalankan suatu komitmen itu juga ngerasa
capek dengan ketidakpastian yang dia jalani *cieileh*. Dan intinya pada hari itu juga mereka berdua mengakhiri ‘komitmen’ yang terlalu
absurd untuk saat ini.
Dari hari-hari yang sangat melelahkan
untuk direnungkan itu aku mulai ngerti apa yang dimaksud bapak,
Suatu saat pasti
kita akan mengerti dengan caranya tersendiri apa yang kita cari. Hati mungkin
sangat kecil, tapi memiliki peran yang cukup besar untuk menuntun kita. Bisa
jadi yang sekarang bersama kita hanya seseorang yang sedang menguji seberapa
tangguh hati kita.
Dan untuk apa yang
aku mengerti lagi selain ini, mungkin akan tertulis setelah aku merasa
mendapatkan jawabannya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar