Rabu, 10 Desember 2014

Jawaban dari waktu


Ada satu pelajaran yang mungkin baru aku pahami sekarang setelah 18 tahun, setiap proses memiliki makna, mengajarkan sesuatu kepada kita, entah untuk saat ini langsung kita dapat mengerti, entah besok, entah minggu depan, entah bulan depan, entah tahun depan, ataupun entah kapan itu, pasti suatu saat kita akan mengerti apa maksud dari proses yang kita alami.

Baru-baru ini aku baru mengerti tentang perasaan.

Dimulai dari beberapa bulan lalu ketika mulai merantau ke kota orang, ada satu pesan yang cukup dan selalu terngiang dari bapak, “jaga hatimu, tidak usah dipikir, fokus nuntut ilmu, tapi bukan berarti menutup”. Kalimat yang simpel namun memiliki banyak makna tersirat.
Selama 18 tahun sebelum hari itu, tidak pernah bapak menyinggung hal semacam itu. Memang hal apapun tentang perasaan aku tidak pernah mendiskusikan itu dengan Bapak Ibu, hehehe *malu laaah*.  Beberapa hari kadang aku berfikir tentang yang dikatakan bapak, apa sih maksud dari nasehat itu. Masa’ iya orang tua tega lihat anaknya jomblo teruuus. Wkwk ah sudahlah.

Lalu aku bertemu dengan dua wanita *yang mengatakan mereka mar’atus sholehah haha :D* . Jujur saja mereka salah satu yang menginspirasiku untuk sampai mengerti dan menulis ini. Dua sahabatku itu tidak pacaran, tapi mereka memiliki komitmen yang intinya mereka akan saling menjaga perasaan sampai suatu saat nanti ketika mereka udah sukses dan siap akan melanjutkan hubungan itu. Intinya seperti HTS lah. Berkomitmen tanpa status, tanpa mengikat, tapi saling mendukung dan menjaga perasaan masing-masing. Sungguh, itu awalnya membuatku iri. berhubungan tapi pada akhirnya pasti tidak akan ada yang tersakiti.


Sampai suatu ketika ada yang aku anggap sedikit mengganjal dari apa yang mereka jalani saat ini. Aku tanya dari salah satu mereka yang intinya hubungan kamu dan dia seperti apa sih?
Dia mengatakan, ya gitu, kami saling dukung satu sama lain, tapi sebisa mungkin kami jaga perasaan biar gak terlalu jauh.
Lalu aku tanya lagi, terus kalau dia hilang gimana? Apa kamu masih bisa sesemangat sekarang?
Dia jawab, ya gapapa. Harus lah itu, kan udah komitmen dari awal untuk tetap jaga hati masing-masing. Dan aku tau batesan perasaanku. Tapi kayaknya sekarang udah lumayan juga sih….
 Nah kan. selama ini yang aku tau semakin terbiasa kita akan semakin nyaman akan semakin berat akan semakin sulit akan semakin benar benar terjatuh loh… renungin aja yang aku omongin, atau mungkin suatu saat kamu bakal ngerti sendiri. 


Aku biarkan dia mengartikannya sendiri. Hahaha. Entah kapan pasti dia akan mengerti. Pasti.
Sampai suatu hari, kita bertemu lagi dan dia tiba tiba menceritakan yang intinya,
          “Mungkin aku sekarang ngerti, kayaknya aku salah selama ini”
Cukup kaget. Ternyata yang aku omongin bener-bener jadi pikiran buat dia. Hahaha xD Antara ngerasa bersalah sama seneng. Dia tanyain yang dia jalani selama ini sama orang lain juga. Dan ini jawaban yang dia dapatkan.


Setiap tutur kataku mungkin menyakitkan. Seperti yidak berperasaan. Seolah tidak mengerti perempuan. Sangat menyebalkan. Setiap tindakanku mungkin terlihat menjengkelkan. Seolah tidak memiliki kelemah lembutan. Seperti katamu, menyebalkan.


Kamu hanya tidak tahu. Aku memang sengaja menyebalkan. Agar kamu tidak menaruh apa-apa didalam diriku, hatimu misalnya. Aku tidak akan bersikap hangat dan terlalu ramah, kamu bukan siapa-siapa kan? Aku tidak akan sembarang memberi perhatian. Meski kamu menuntut diperhatikan. Tapi siapa kamu? Teman hidupku? Bukan.


Ku jaga kamu dengan demikian. Jangan paksa aku untuk membuatmu jatuh hati. Jangan menitipkan apapun ditanganku karena aku bisa saja mematahkannya. Jangan memaksaku untuk begitu lemah lembut karena itu hanya untuk teman hidupku.
Aku menyebalkan bukan?
Memang.


Dan pada akhirnya dia mulai menjaga batasan-batasan itu lagi.
Tidak Cuma itu kejutan hari itu, sahabat satunya yang menjalankan suatu komitmen itu juga ngerasa capek dengan ketidakpastian yang dia jalani *cieileh*. Dan intinya pada hari itu juga mereka  berdua mengakhiri ‘komitmen’ yang terlalu absurd untuk saat ini.

          Dari hari-hari yang sangat melelahkan untuk direnungkan itu aku mulai ngerti apa yang dimaksud bapak,
Suatu saat pasti kita akan mengerti dengan caranya tersendiri apa yang kita cari. Hati mungkin sangat kecil, tapi memiliki peran yang cukup besar untuk menuntun kita. Bisa jadi yang sekarang bersama kita hanya seseorang yang sedang menguji seberapa tangguh hati kita. 


Dan untuk apa yang aku mengerti lagi selain ini, mungkin akan tertulis setelah aku merasa mendapatkan jawabannya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar