Jumat, 26 Juni 2015

Juni Keempat Sejak Waktu itu

Empat tahun yang lalu aku meminta untuk dapat aku menjauh, sangat jauh, dari tempat yang telah berlalu.
Orang bertanya seberapa sakit rasanya?
aku tidak tahu. sungguh tidak tahu.
Aku tidak dapat menjelaskan rasa sakit itu seberapa dalam.
Tapi jika aku boleh berandai, aku ingin pergi sangat jauh agar aku tidak menemukannya dan aku yakin itu tidak mungkin.
Orang bilang, jika seseorang ingin pergi sangat jauh tanpa bisa menjelaskan alasanya, bisa jadi salah satu dari dua alasan ini sebagai alasannya, luka yang amat dalam atau cinta yang amat dalam.
Dan mungkin benar, dua alasan sekaligus tersebut menjadi alasanya.
aku tidak ingin bercerita kembali apa yang membuatku sesakit ini. aku tidak memiliki alasan untuk bercerita. Allah telah menutupnya, tidak mungkin aku membukanya.
Setelah sejauh ini ku pergi, semua tidak sama persis dengan bayanganku.
luka ini mungkin masih ada. sakitnya masih sama. aku terheran, sudah sangat jauh ku pergi, sudah sangat lama ku tutup rapat itu, tapi kenapa aku masih merasa kesakitan ketika sebentar mengenangnya.
ini bukan masalah cinta biasa. cinta ku denganNya pernah dipertaruhkan disini, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar selama aku diijinkanNya bernafas.
Aku tidak akan mengulangi itu. Tidak akan pernah.
Aku ingin menebusnya, jika dulu aku perlahan merayap untuk mundur, kini aku ingin berlari mendekatiNya.
aku lelah berfikir alasan kenapa setelah jauh aku berlari menjauh aku masih merasa sesakit ini, maka dengan tulisan ini aku putuskan untuk menyelesaikannya. aku putuskan berhenti berfikir.
Entah seberapa sakit luka ini, seberapa dalam, itu urusannya. Ini perasaanku, aku yang berhak memutuskan, aku jauh lebih berhak untuk bahagia.
Satu yang akan selalu ku ingat ketika aku kembali lelah,
Seberapa jauh ku pergi nyatanya semua akan tetap sama. Sebenarnya mungkin hanya butuh melakukan hal yang sederhana. Memaafkan, dan menunggu waktu yang akan mengobati.
 
Jogja,
Juni ke empat sejak waktu itu.

kini aku benar memilih diam

Bismillahirrohmanirrohiiim......
Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari hatinya, siapa yang tau dalamnya hati manusia? siapa yang dapat menyelaminya?
begitu pula Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari agamanya yang nampak oleh mata yang memiliki banyak kekurangan ini.
aku tidak pernah berhak. tidak.
mata ini tidak berhak menilai, apalagi hati ini yang masih sangat kotor dari penyakit.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Apa yang bisa ku lakukan? Apa yang dapat ku pilih? Bagaimana ku pilih do'a untuknya kepadaMu? Bagaimana aku harus memintamu?
aku tidak pernah berhak, tidak.
Rasanya teramat sakit. Ingin sekali aku meminta Allah menyegerakan azab yang pedih.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Terlalu banyak salahku, dosaku, rasanya sangat hina jika aku meminta Allah menyegerakan azabnya padahal mungkin dosaku jauh lebih besar.
aku tidak pernah berhak, tidak.
sekali lagi, tidak ada yang dapat menyelami hati manusia, tidak ada yang tahu apa yang ada didalamnya. Entah apa yang ada didalam hatinya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Kini aku memilih diam. Sakit ini mungkin memang karena penyakit yang ada didalamnya, belum tentu karenanya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Entah apa yang ingin dilakukannya, itu urusannya. Entah seberapa besar kekuatan yang ia yakini miliki, aku percaya Engkau Maha Kuat untuk melindungiku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ku sibukan hatiku untuk menata kembali. Bukan aku tidak peduli. Seberapa kerasnya aku, aku tau aku tidak akan bisa merubah apapun. Engkau yang berkehendak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ijinkan aku mendekatiMu, hanya kepadaMu ku meratap apa yang ada dihati, entah seperti apa nanti pilihanMu, ku yakin itu pilihan terbaik daripada keinginanku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam.
ketika aku membenci sesuatu, semoga itu karena Engkau juga membencinya.