Empat tahun yang lalu aku meminta untuk dapat aku menjauh, sangat jauh, dari tempat yang telah berlalu.
Orang bertanya seberapa sakit rasanya?
aku tidak tahu. sungguh tidak tahu.
Aku tidak dapat menjelaskan rasa sakit itu seberapa dalam.
Tapi jika aku boleh berandai, aku ingin pergi sangat jauh agar aku tidak menemukannya dan aku yakin itu tidak mungkin.
Orang bilang, jika seseorang ingin pergi sangat jauh tanpa bisa menjelaskan alasanya, bisa jadi salah satu dari dua alasan ini sebagai alasannya, luka yang amat dalam atau cinta yang amat dalam.
Dan mungkin benar, dua alasan sekaligus tersebut menjadi alasanya.
aku tidak ingin bercerita kembali apa yang membuatku sesakit ini. aku tidak memiliki alasan untuk bercerita. Allah telah menutupnya, tidak mungkin aku membukanya.
Setelah sejauh ini ku pergi, semua tidak sama persis dengan bayanganku.
luka ini mungkin masih ada. sakitnya masih sama. aku terheran, sudah sangat jauh ku pergi, sudah sangat lama ku tutup rapat itu, tapi kenapa aku masih merasa kesakitan ketika sebentar mengenangnya.
ini bukan masalah cinta biasa. cinta ku denganNya pernah dipertaruhkan disini, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar selama aku diijinkanNya bernafas.
Aku tidak akan mengulangi itu. Tidak akan pernah.
Aku ingin menebusnya, jika dulu aku perlahan merayap untuk mundur, kini aku ingin berlari mendekatiNya.
aku lelah berfikir alasan kenapa setelah jauh aku berlari menjauh aku masih merasa sesakit ini, maka dengan tulisan ini aku putuskan untuk menyelesaikannya. aku putuskan berhenti berfikir.
Entah seberapa sakit luka ini, seberapa dalam, itu urusannya. Ini perasaanku, aku yang berhak memutuskan, aku jauh lebih berhak untuk bahagia.
Satu yang akan selalu ku ingat ketika aku kembali lelah,
Seberapa jauh ku pergi nyatanya semua akan tetap sama. Sebenarnya mungkin hanya butuh melakukan hal yang sederhana. Memaafkan, dan menunggu waktu yang akan mengobati.
Orang bertanya seberapa sakit rasanya?
aku tidak tahu. sungguh tidak tahu.
Aku tidak dapat menjelaskan rasa sakit itu seberapa dalam.
Tapi jika aku boleh berandai, aku ingin pergi sangat jauh agar aku tidak menemukannya dan aku yakin itu tidak mungkin.
Orang bilang, jika seseorang ingin pergi sangat jauh tanpa bisa menjelaskan alasanya, bisa jadi salah satu dari dua alasan ini sebagai alasannya, luka yang amat dalam atau cinta yang amat dalam.
Dan mungkin benar, dua alasan sekaligus tersebut menjadi alasanya.
aku tidak ingin bercerita kembali apa yang membuatku sesakit ini. aku tidak memiliki alasan untuk bercerita. Allah telah menutupnya, tidak mungkin aku membukanya.
Setelah sejauh ini ku pergi, semua tidak sama persis dengan bayanganku.
luka ini mungkin masih ada. sakitnya masih sama. aku terheran, sudah sangat jauh ku pergi, sudah sangat lama ku tutup rapat itu, tapi kenapa aku masih merasa kesakitan ketika sebentar mengenangnya.
ini bukan masalah cinta biasa. cinta ku denganNya pernah dipertaruhkan disini, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar selama aku diijinkanNya bernafas.
Aku tidak akan mengulangi itu. Tidak akan pernah.
Aku ingin menebusnya, jika dulu aku perlahan merayap untuk mundur, kini aku ingin berlari mendekatiNya.
aku lelah berfikir alasan kenapa setelah jauh aku berlari menjauh aku masih merasa sesakit ini, maka dengan tulisan ini aku putuskan untuk menyelesaikannya. aku putuskan berhenti berfikir.
Entah seberapa sakit luka ini, seberapa dalam, itu urusannya. Ini perasaanku, aku yang berhak memutuskan, aku jauh lebih berhak untuk bahagia.
Satu yang akan selalu ku ingat ketika aku kembali lelah,
Seberapa jauh ku pergi nyatanya semua akan tetap sama. Sebenarnya mungkin hanya butuh melakukan hal yang sederhana. Memaafkan, dan menunggu waktu yang akan mengobati.
Jogja,
Juni ke empat sejak waktu itu.
Juni ke empat sejak waktu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar