Sabtu, 07 Januari 2017

Future Family, Insya Allah.



    Laki-laki selalu menginginkan perempuan terbaik sebagai madrasah pertama anak-anaknya. Begitu pula perempuan, ia selalu menginginkan Ayah yang tanpa segan berperan sebagai sosok pahlawan bagi anak-anaknya, yang turut hadir disaat mereka membutuhkan, tidak bosan mendengarkan tiap cerita maupun keluh kesah mereka, dan tentu sabar dalam menasehati. Karena generasi terbaik tidak hanya lahir dari ibu yang cerdas, namun sosok Ayah terbaik yang sabar menuntun menuju surgaNya pula menentukan.





"kita mungkin tidak bisa memilih dilahirkan didalam keluarga seperti apa, namun kita bisa memilih keluarga seperti apa yang ingin kita wujudkan, bukan begitu?"

Digita A. Nurrohmah

Kamis, 21 April 2016

Undangan Cinta dari Allah

Berbalik arah.
Mungkin masa-masa seperti itulah yang dalam setiap perjalanan nantinya akan selalu terkenang. Seperti hari ini.
Lima tahun lalu yang menyakitkan dan sampai detik ini adalah perjalanan yang tidak mudah. Mungkin bukan hanya buat aku, tapi setiap orang jika mengingat masa lalu pasti memiliki cerita pada masanya sendiri. Dari aku yang bukan siapa-siapa dan sampai sekarang menjadi aku yang tidak ada apa-apanya ini butuh suatu proses. Dan setiap proses itu jika dinikmati rasanya cepat sekali berlalu.
Ketika banyak orang mengatakan masa-masa SMA adalah masa terindah sama sahabat, aku mungkin berbeda.  Masa SMA ku berbeda, dari hal-hal yang menyakitkan itu aku dipaksa untuk menjadi dewasa.
Pada masa yang mungkin titik balikku itu, aku mulai menulis 60-sekian daftar target yang harus bisa aku lakukan bulan depan-setahun kedepan-dua tahun kedepan dan tahun-tahun kedepannya. Pada mulanya target itu cukup sederhana, move on, sholat, ngaji, tugas sekolah, belajar, main hehe :D aku tulis aja singkat selain buat ngingetin juga buat penyemangat lah yaw. 
Tapi, sebelum aku nulis daftar target itu aku juga nulis daftar masalah aku saat itu yang harus segera diselesaikan. Bukan sekedar masalah dengan orang lain yang hanya perlu meminta maaf atau bagaimana, tapi lebih parahnya masalah dengan diri sendiri yang paling menghambat pada masa itu.
Pada masa itu, setiap berusaha menyelesaikan satu masalah rasanya datang lagi 5 masalah. Kalo ga gtu, setiap satu langkah berusaha maju, rasanya 3 langkah kedorong lagi ke belakang. Entah apa yang salah aku pun kurang tau, yang jelas pada masa itu sempat beberapa kali putus asa kenapa untuk merangkak aja berat.
Tepat saat aku menulis daftar-daftar itu, aku juga menulis diselembar kertas bertuliskan "PMDK FK UGM" didinding kamar. Ragu awalnya, untuk bermimpi kesana, tapi yaa sekedar tulisan, semoga ada yang baca dan ikut doain hehehe
Tapi boro-boro doain, malah pada ngecengin iya hehe waktu itu lagi ngetrend nulis PTN idaman di medsos, ikutlah aku nulis, tapi sayangnya malah kena bully temen sama sodara yang baca hahaha
Aku nulis itu dari tahun pertama.
Pada masa yang memaksaku untuk dewasa lebih dulu dibanding dengan kawan-kawanku, aku lebih sering berbincang dengan diri sendiri? aneh? tidak. jika kalian sedang berada diposisi menyakitkan, ketika berbicara itu terasa keluh, ketika bercerita enggan ada yang mendengar, atau ingin pergi namun dipaksa untuk bertahan, berbincang dengan diri sendiri cukup mengobati.
Sekolah tetep jalan, mskipun sering tidak masuk kelas hehe karena salah satu yang menyakitkan berada disetiap pelajaran kimia, tapi selain itu bisa dipastikan aku ada dikelas meskipun tidur dibawah meja belakang. 
Pada masa itu jadwal sekolah bukan jadi acuan utama. kenapa? karna beda itu indah. heheehe
Aku berangkat sekolah dari rumah jam 7 tepat kadang lebih. kenapa? karena sebelum jam 7 jalan padet dengan orang-orang sekolah. hehehe telat? pasti. Tapi prinsipnya, dateng disekolah setengah 8 lebih baik dari dateng jam 7. hahaha 
Jam istirahatku berbeda, dari tahun pertama SMA, sekali lagi, karena hal menyakitkann yang memaksaku lebih sering berbincang dengan diri sendiri, aku lebih sering keluar kelas 15 menit sebelum bel istirahat. Kalian sadari tidak, 15 menit terakhir sebelum bel istirahat lebih sering kurang optimal dalam pembelajaran. hehehe
Aku memilih masjid tempat berbincang selain dengan diri sendiri, dengan Tuhan juga. Memilih 15 menit sebelum bel ternyata pilihan yang tepat, karena biasanya pada bel istirahat masjid mulai rame dengan anak kelas 3. 
Hal itu terus berulang sampai tiga tahun kedepannya.
Namun ada satu yang membuat berbeda. Aku punya satu keluarga, GACILA, yang mungkin membuat aku sedikit merasakan yang dirasakan kawan-kawan ku selama SMA.
Lanjut.
Pada masa itu daftar targetku sudah banyak yang aku coret, banyak yg tercapai? tidak. malah banyak yang gagal dan melewati masa target itu alasan kenapa tercoret hehe
putus asa? pernah. sering.
Banyak ajakan kawan-kawanku yang sengaja aku lewatkan kecuali pantai. Kenapa? karena pantai juga tempat ter-nyamanku untuk berbincang dengan diri sendiri.
Tiga tahun aku intensif berbincang dengan diriku sendiri, mengenalnya lebih dekat, mengolah rasa, menyenangkan. Ketika ada ajakan kawan untuk main, aku sering bertanya pada diriku sendiri. perlu kah?
Tahun terakhir SMA, pada masa itu pernah merasakan benar-benar setiap target sia-sia. tidak ada yang tercapai. setelah pengumuman UN yang mengenaskan, aku yang mulai sedikit membuka diri lagi dengan kawan-kawanku pada mulanya, kembali menutupnya. 
sejak hari itu, aku lebih sering lagi berdiam diri, enggan berbincang dengan diri sendri, karena semua perbincangan ini terasa sia-sia. aku kembali membuka targetku, mencoretnya lagi karena kegagalanku, rasanya ingin membakarnya karena tidak ada satupun pencapaian yg benar-benar tercapai.
Pada saat itu aku menulis satu daftar lagi, janjiku dengan Tuhan.
"Tuhan, jika semua yang menyakitkan ini tidak pernah sembuh ataupun hilang, bawa aku ke Jogja. Jogja saja Tuhan. Aku janji, ketika Engkau membawaku ke Jogja, aku akan memaafkan masa laluku, aku akan berjuang untukMu, aku akan berbakti pada bapak ibuku, aku akan berusaha melakukan apapun untuk berjung bagi agamaku. Tuhan, jadikan jogjaku kado terindah untuk bapak ibuku. cukup itu keinginanku saat ini."
AJAIB. 
tidak perlu waktu lama Tuhan menjawab do'aku. 
tujuh hari dari waktu itu, tepat di ulang tahun Bapak, undangan dari Allah untuk ke Jogja sampai.
Sujud syukur. Nangis sejadi-jadinya. Allahu Akbar !!! tidak ada yang mustahil bagiMu memang. 
Kalian tau apa undangan dari Allah itu? selembar kertas yang sudah tertulis didindig kamar dari tiga tahun sebelum datang langsung undanganNya, target yang terlewatkan, yang sulit untuk tercoret seperti target rapi didalam buku ini, iya, PMDK FK(H) UGM. Entahlah bagaimana Allah mengaturnya, ini salah satu nikmat Allah yang sangat luar biasa.

Pada masa ini, aku selalu berusaha sellu mengingat masa itu. Baik waktu kondisiku diatas atau dibaawah. Bukan apa-apa, namun untuk sekedar mengingat ada yang perlu diperjuangkan disisi, undangan cinta dari Allah.

Sabtu, 09 April 2016

Reminder

Play :  https://soundcloud.com/muhamad-mustakim-hashim/nasyid-edcoustic-sendiri

Empat bulan dari waktu itu, sampai sekarang, bukan waktu sebentar. 
Satu hal menyesakkan, ketika Allah sedang menguji kita, dan kita tidak sadar dengan ujian itu. 

sendiri menyepi... tenggelam dalam renungan.. ada apa aku seakan ku jauh dari ketenangan.....

Itu pertanyaan beberapa  hari ini, mungkin beberapa minggu lalu, atau mungkin bulan? Sampai saat ini, menyedihkan, bagaimana mungkin setelah sekian banyak yang tertulis masih bisa melupakannya? sebegitu lalaikah aku ya Allah?
Allah.....
menyakitkan sekali ketika aku merasa sangat jauh dariMu, namun air mata ini enggan menetes. Sebegitu angkuh kah aku? Sebegitu Engkau keraskan hatiku ini ya Rabb?

inginku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi....

yang terjadi hari ini mungkin sama seperti saat aku menulis 14 september dua tahun lalu. Dan akupun mungkin sudah menemukan sedikit jawabannya saat aku menulis  10 januari setahun silam.  

mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi 

Lalu siapa yang salah? Mataku kah yang sibuk melihat dunia dan seisinya? Hatiku kah yang sibuk berandai-andai? 
 Yaa Rabb, jangan hukum aku dengan jauh darimu.

ku ingin cahayaMu, Benderang dihidupku....
Digita A. Nurrohmah

Senin, 28 Maret 2016

Yk, Maret 2016

          Tidak semua pembenaran harus diungkapkan ketika itu hanya melukai dan menyakiti orang lain. Diam itu perlu. Emas kalo kata pepatah. Sekali dua kali cukup. Karena berlebihan itu tidak baik. Cukuplah benar dimata Allah, sekalipun mungkin ada pilihan yang kurang tepat, minta Allah yang meluruskan. Sekalipun menyakitkan bagi kita, minta Allah segera mengobati.
             Ada satu masa dimana aku untuk melihat saja tidak berani apalagi melakukan pembenaran.Dimasa itu bisa melihat siapa orang yang benar-benar tulus menyayangimu, orang yanng mengasihanimu, orang yang pura-pura peduli dan orang yang tertawa didepanmu. Dimasa itu aku tau, sedikit ucapan kita dapat menyakiti tanpa sengaja. Dan dimasa itu aku mulai belajar, kadang tuli itu perlu, bisu itu penting, dan buta itu berharga. 
              Tuli. Menulikan telinga ketika orang lain berkata buruk tentang kita. Menulikan telinga ketika cerita-cerita yang tidak kita tau kebenarannya dan tidak perlu kita tau. Menulikan telinga, jika mendengarkan lebih tidak baik bagi kita.
              Bisu.Membisukan mulut kita ketika bicara dapat tanpa sengaja menyakiti. 
              Buta. tutup matamu, ketika membuka mata hanya menghentikan langkahmu.


Sabtu, 03 Oktober 2015

galau (tak) berujung

Tak patut aku mengingat hal lain selain mengingatMu, tak pantas rasanya aku mencintai dunia dan seisinya ini sebelum aku membalas cintaMu kepadaku.



Sembilan belas tahun Engkau anugrahkan segenggam hati, namun baru kali ini rasanya aku tidak nyaman dengan yang sedikit mengganguku.
ya Rabb, Engkau lah Maha Mencintai. tidak ada cinta lain yang sempurna selain cintaMu kepada kami. 
Didalam hati Engkau anugrahkan rasa cinta dan kasih sayang. Namun aku sungguh takut, sekilas terbesit dipikiranku, ada apa dibalik nikmatnya anugrahMu ini, mungkinkah ada ujian besar yang menunggu?
Dalam sebuah hadist telah diriwayatkan, 
Nabi Muhammad saw. bersabda: "Masing-masing hamba Allah (manusia) mempunyai empat biji mata. Dua biji pada kepalanya, untuk melihat urusan dunianya. Dan dua biji pada hatinya, untuk melihat urusan agamanya."
Aku takut jika aku menggunakan empat mataku itu dengan terbalik, atau mungkin malah menggunakannya untuk melihat yang terasa nyata saja.. 
atau mungkin aku seolah-olah menggunakannya dengan benar namun nyatanya terselip dalam mata hati ini tentang urusan duniaku.
ya Rabb sungguh berat ujian tentang hati ini, ketika pikiran dan hati mulai berjalan tidak beriringan, aku tidak tau mana yang benar dan harus ku ikuti. 
ya Rabb, hati ini begitu lemah hingga mudah sekali terbolak-balik, meskipun begitu, aku tau ini juga karuniamu yang Maha Membolak Balikkan hati manusia. Aku hanya bisa memohon kepadaMu ya Rabb, bagaimana pun keadaan hatiku ini, semoga tidak mengganggu ibadahku, membolak balikkan agamaku. 



memang hidup hakikatnya adalah ujian. Ujian ketaqwaan untuk teguh meraih surga. Namun jika ada pilihan antara dunia seisinya ini bisa aku miliki atau aku dapat berada disisiMu, sungguh aku ingin sekarang juga berada disisiMu.

Jumat, 26 Juni 2015

Juni Keempat Sejak Waktu itu

Empat tahun yang lalu aku meminta untuk dapat aku menjauh, sangat jauh, dari tempat yang telah berlalu.
Orang bertanya seberapa sakit rasanya?
aku tidak tahu. sungguh tidak tahu.
Aku tidak dapat menjelaskan rasa sakit itu seberapa dalam.
Tapi jika aku boleh berandai, aku ingin pergi sangat jauh agar aku tidak menemukannya dan aku yakin itu tidak mungkin.
Orang bilang, jika seseorang ingin pergi sangat jauh tanpa bisa menjelaskan alasanya, bisa jadi salah satu dari dua alasan ini sebagai alasannya, luka yang amat dalam atau cinta yang amat dalam.
Dan mungkin benar, dua alasan sekaligus tersebut menjadi alasanya.
aku tidak ingin bercerita kembali apa yang membuatku sesakit ini. aku tidak memiliki alasan untuk bercerita. Allah telah menutupnya, tidak mungkin aku membukanya.
Setelah sejauh ini ku pergi, semua tidak sama persis dengan bayanganku.
luka ini mungkin masih ada. sakitnya masih sama. aku terheran, sudah sangat jauh ku pergi, sudah sangat lama ku tutup rapat itu, tapi kenapa aku masih merasa kesakitan ketika sebentar mengenangnya.
ini bukan masalah cinta biasa. cinta ku denganNya pernah dipertaruhkan disini, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar selama aku diijinkanNya bernafas.
Aku tidak akan mengulangi itu. Tidak akan pernah.
Aku ingin menebusnya, jika dulu aku perlahan merayap untuk mundur, kini aku ingin berlari mendekatiNya.
aku lelah berfikir alasan kenapa setelah jauh aku berlari menjauh aku masih merasa sesakit ini, maka dengan tulisan ini aku putuskan untuk menyelesaikannya. aku putuskan berhenti berfikir.
Entah seberapa sakit luka ini, seberapa dalam, itu urusannya. Ini perasaanku, aku yang berhak memutuskan, aku jauh lebih berhak untuk bahagia.
Satu yang akan selalu ku ingat ketika aku kembali lelah,
Seberapa jauh ku pergi nyatanya semua akan tetap sama. Sebenarnya mungkin hanya butuh melakukan hal yang sederhana. Memaafkan, dan menunggu waktu yang akan mengobati.
 
Jogja,
Juni ke empat sejak waktu itu.

kini aku benar memilih diam

Bismillahirrohmanirrohiiim......
Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari hatinya, siapa yang tau dalamnya hati manusia? siapa yang dapat menyelaminya?
begitu pula Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari agamanya yang nampak oleh mata yang memiliki banyak kekurangan ini.
aku tidak pernah berhak. tidak.
mata ini tidak berhak menilai, apalagi hati ini yang masih sangat kotor dari penyakit.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Apa yang bisa ku lakukan? Apa yang dapat ku pilih? Bagaimana ku pilih do'a untuknya kepadaMu? Bagaimana aku harus memintamu?
aku tidak pernah berhak, tidak.
Rasanya teramat sakit. Ingin sekali aku meminta Allah menyegerakan azab yang pedih.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Terlalu banyak salahku, dosaku, rasanya sangat hina jika aku meminta Allah menyegerakan azabnya padahal mungkin dosaku jauh lebih besar.
aku tidak pernah berhak, tidak.
sekali lagi, tidak ada yang dapat menyelami hati manusia, tidak ada yang tahu apa yang ada didalamnya. Entah apa yang ada didalam hatinya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Kini aku memilih diam. Sakit ini mungkin memang karena penyakit yang ada didalamnya, belum tentu karenanya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Entah apa yang ingin dilakukannya, itu urusannya. Entah seberapa besar kekuatan yang ia yakini miliki, aku percaya Engkau Maha Kuat untuk melindungiku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ku sibukan hatiku untuk menata kembali. Bukan aku tidak peduli. Seberapa kerasnya aku, aku tau aku tidak akan bisa merubah apapun. Engkau yang berkehendak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ijinkan aku mendekatiMu, hanya kepadaMu ku meratap apa yang ada dihati, entah seperti apa nanti pilihanMu, ku yakin itu pilihan terbaik daripada keinginanku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam.
ketika aku membenci sesuatu, semoga itu karena Engkau juga membencinya.