Sabtu, 03 Oktober 2015

galau (tak) berujung

Tak patut aku mengingat hal lain selain mengingatMu, tak pantas rasanya aku mencintai dunia dan seisinya ini sebelum aku membalas cintaMu kepadaku.



Sembilan belas tahun Engkau anugrahkan segenggam hati, namun baru kali ini rasanya aku tidak nyaman dengan yang sedikit mengganguku.
ya Rabb, Engkau lah Maha Mencintai. tidak ada cinta lain yang sempurna selain cintaMu kepada kami. 
Didalam hati Engkau anugrahkan rasa cinta dan kasih sayang. Namun aku sungguh takut, sekilas terbesit dipikiranku, ada apa dibalik nikmatnya anugrahMu ini, mungkinkah ada ujian besar yang menunggu?
Dalam sebuah hadist telah diriwayatkan, 
Nabi Muhammad saw. bersabda: "Masing-masing hamba Allah (manusia) mempunyai empat biji mata. Dua biji pada kepalanya, untuk melihat urusan dunianya. Dan dua biji pada hatinya, untuk melihat urusan agamanya."
Aku takut jika aku menggunakan empat mataku itu dengan terbalik, atau mungkin malah menggunakannya untuk melihat yang terasa nyata saja.. 
atau mungkin aku seolah-olah menggunakannya dengan benar namun nyatanya terselip dalam mata hati ini tentang urusan duniaku.
ya Rabb sungguh berat ujian tentang hati ini, ketika pikiran dan hati mulai berjalan tidak beriringan, aku tidak tau mana yang benar dan harus ku ikuti. 
ya Rabb, hati ini begitu lemah hingga mudah sekali terbolak-balik, meskipun begitu, aku tau ini juga karuniamu yang Maha Membolak Balikkan hati manusia. Aku hanya bisa memohon kepadaMu ya Rabb, bagaimana pun keadaan hatiku ini, semoga tidak mengganggu ibadahku, membolak balikkan agamaku. 



memang hidup hakikatnya adalah ujian. Ujian ketaqwaan untuk teguh meraih surga. Namun jika ada pilihan antara dunia seisinya ini bisa aku miliki atau aku dapat berada disisiMu, sungguh aku ingin sekarang juga berada disisiMu.

Jumat, 26 Juni 2015

Juni Keempat Sejak Waktu itu

Empat tahun yang lalu aku meminta untuk dapat aku menjauh, sangat jauh, dari tempat yang telah berlalu.
Orang bertanya seberapa sakit rasanya?
aku tidak tahu. sungguh tidak tahu.
Aku tidak dapat menjelaskan rasa sakit itu seberapa dalam.
Tapi jika aku boleh berandai, aku ingin pergi sangat jauh agar aku tidak menemukannya dan aku yakin itu tidak mungkin.
Orang bilang, jika seseorang ingin pergi sangat jauh tanpa bisa menjelaskan alasanya, bisa jadi salah satu dari dua alasan ini sebagai alasannya, luka yang amat dalam atau cinta yang amat dalam.
Dan mungkin benar, dua alasan sekaligus tersebut menjadi alasanya.
aku tidak ingin bercerita kembali apa yang membuatku sesakit ini. aku tidak memiliki alasan untuk bercerita. Allah telah menutupnya, tidak mungkin aku membukanya.
Setelah sejauh ini ku pergi, semua tidak sama persis dengan bayanganku.
luka ini mungkin masih ada. sakitnya masih sama. aku terheran, sudah sangat jauh ku pergi, sudah sangat lama ku tutup rapat itu, tapi kenapa aku masih merasa kesakitan ketika sebentar mengenangnya.
ini bukan masalah cinta biasa. cinta ku denganNya pernah dipertaruhkan disini, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar selama aku diijinkanNya bernafas.
Aku tidak akan mengulangi itu. Tidak akan pernah.
Aku ingin menebusnya, jika dulu aku perlahan merayap untuk mundur, kini aku ingin berlari mendekatiNya.
aku lelah berfikir alasan kenapa setelah jauh aku berlari menjauh aku masih merasa sesakit ini, maka dengan tulisan ini aku putuskan untuk menyelesaikannya. aku putuskan berhenti berfikir.
Entah seberapa sakit luka ini, seberapa dalam, itu urusannya. Ini perasaanku, aku yang berhak memutuskan, aku jauh lebih berhak untuk bahagia.
Satu yang akan selalu ku ingat ketika aku kembali lelah,
Seberapa jauh ku pergi nyatanya semua akan tetap sama. Sebenarnya mungkin hanya butuh melakukan hal yang sederhana. Memaafkan, dan menunggu waktu yang akan mengobati.
 
Jogja,
Juni ke empat sejak waktu itu.

kini aku benar memilih diam

Bismillahirrohmanirrohiiim......
Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari hatinya, siapa yang tau dalamnya hati manusia? siapa yang dapat menyelaminya?
begitu pula Aku tidak pernah memiliki hak menilai seseorang dari agamanya yang nampak oleh mata yang memiliki banyak kekurangan ini.
aku tidak pernah berhak. tidak.
mata ini tidak berhak menilai, apalagi hati ini yang masih sangat kotor dari penyakit.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Apa yang bisa ku lakukan? Apa yang dapat ku pilih? Bagaimana ku pilih do'a untuknya kepadaMu? Bagaimana aku harus memintamu?
aku tidak pernah berhak, tidak.
Rasanya teramat sakit. Ingin sekali aku meminta Allah menyegerakan azab yang pedih.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Terlalu banyak salahku, dosaku, rasanya sangat hina jika aku meminta Allah menyegerakan azabnya padahal mungkin dosaku jauh lebih besar.
aku tidak pernah berhak, tidak.
sekali lagi, tidak ada yang dapat menyelami hati manusia, tidak ada yang tahu apa yang ada didalamnya. Entah apa yang ada didalam hatinya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Kini aku memilih diam. Sakit ini mungkin memang karena penyakit yang ada didalamnya, belum tentu karenanya.
aku tidak pernah berhak, tidak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Entah apa yang ingin dilakukannya, itu urusannya. Entah seberapa besar kekuatan yang ia yakini miliki, aku percaya Engkau Maha Kuat untuk melindungiku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ku sibukan hatiku untuk menata kembali. Bukan aku tidak peduli. Seberapa kerasnya aku, aku tau aku tidak akan bisa merubah apapun. Engkau yang berkehendak.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam. Ijinkan aku mendekatiMu, hanya kepadaMu ku meratap apa yang ada dihati, entah seperti apa nanti pilihanMu, ku yakin itu pilihan terbaik daripada keinginanku.
Yaa Rabb, kini aku benar memilih diam.
ketika aku membenci sesuatu, semoga itu karena Engkau juga membencinya.

Sabtu, 14 Maret 2015

Cerita di dalam Labirin

Sebuah langkah berjalan menapak menyapa bunga bunga ikan kucing yang bersisihan disepanjang jalan melalui labirin labirin yang setiap bagiannya memiliki cerita indah untuk disimak. Ketika memasuki sisi sisi labirin yang menceritakan cerita baru, langkah itu mengurangi kecepatan langkahnya. Perlahan lahan ia menyimak cerita itu dengan seksama agar tidak ada satu bagian yang terlewatkan. Namun ditengah cerita langkah itu terhenti, ada persimpangan jalan yang membuat langkah harus memilih, keduanya terlihat memiliki cerita masing-masing.
pada akhirnya langkah memilih untuk berbelok ketimbang  lurus. Langkah semakin menikmati jalan cerita dari sisi sisi labirin itu. kadang ia berhenti sejenak membayangkan saat itu dia berada didalam cerita dari labirin. sampai ia tidak menyadari jalan setapak yang ia lewati mulai berubah. 
Jalan setapak yang awalnya berumput semakin jauh semakin menghilang, hingga tinggal tanah tandus dengan kerikil-kerikil yang semakin lama semakin menajam. Dinding-dinding labirin yang berasal dari tumbuhan yang awalnya hijau kini mulai menguning. semakin gersang. Dan sang langkah pun memelankan langkahnya menyadari cerita pada labirin yang sudah tidak sesuai dengan bayangannya meskipun sebenarnya tetap menarik. Langkah juga terhenti karena ia menyadari sepasang telapak kakinya mulai memerah akibat jalan yang tandus dan berkerikil. Bengkak. Pada ujung ibu jarinya bahkan sudah memancarkan banyak darah segar, dan ia baru menyadari setelah sekian jauh melangkah.....
Langkah terhenti.

Tapi aku belum berhenti. 
Mungkin sama, meskipun sama sama ada goresan luka yang menyakitkan, tapi aku tidak memilih berhenti setelah aku menyadari itu.
Aku akan berjalan, seribu langkah lebih cepat dari pada sebelumnya. Aku ingin segera keluar dari cerita yang cukup banyak menyita waktuku dan.... perasaanku.Cerita yang tersisa biarlah tetap menjadi cerita misterius yang belum berujung. atau mungkin memang ujungnya harus seperti ini.
Aku akan lebih memilih untuk sebuah cerita biar ia tak bisa mengendalikan perasaanku.
aku akan tetap berjalan. Menuju cerita baru. hingga aku sampai pada sebuah tempat yang menjadi tujuan.

Jumat, 16 Januari 2015

Tulisan tanpa judul

Banyak orang mengatakan sahabat itu orang yang sangat penting dan berharga seperti saudara. Bagaimana tidak? Sahabat menjadi orang yang sering mendengarkan keluh kesah kita, kita sering meminta pendapatnya, dan dia mungkin salah satu orang yg lebih tau tentang kita setelah orang tua dan saudara kandung.
Selain itu, setiap orang pasti memiliki pandangannya sendiri tentang persahabatan.  Persahabatan itu sebuah hal yang kompleks. Mungkin dari pandangan awalnya terasa berlebihan. Tapi, kenyataanya memang demikian.
Banyak sedikit persahabatan saling mempengaruhi kepribadian, tapi mungkin tidak banyak persahabatan yang bisa membawa ke surga seperti layaknya persahabatan antara Rosulullah dan Abu Bakar atau Umar bin Khatab.
Lalu bagaimana persahabatan kita bisa membawa kita ke surga?
Menurut saya, urusan ke surga atau neraka keputusan Allah. Manusia hanya bisa melakukan apa yang Allah cintai. Termasuk mengenai persahabatan. Karena persahabatan bisa membawa manusia ke surga atau neraka, hendaklah memilih sahabat menurut agamanya. Seperti yang Imam Syafi'i katakan :  "
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman 'baik' itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali".

Sahabat yang baik adalah muslim & mu'min yang saling memperhatikan satu sama lain. Jika temannya bersedih maka satunya menghibur, menyemangati. Antara satu sama lain saling menasihati, mencegah untuk berbuat maksiat dan mengajak kepada ketaatan kepada Allah SWT.

Sahabat yang baik adalah yang mengajak belajar bersama untuk dekat dengan Allah. Yang mengajak berlomba lomba untuk dekat dengan Allah. Yang tidak pernah bosan saling mengingatkan untuk dekat dengan Allah. Dan tentunya yang tidak rela sahabatnya jauh dari Allah.

Dan banyak rangkaian kejadian akan menunjukkan siapa kawan,  dan siapa saja yang benar-benar
sayang kepadamu.

Sebuah sentuhan kecil yang bersumber dari akhlak yang mulia. Tulus, tiada dusta, sarat akan makna. Dua insan yang dapat bersatu meski awalnya tiada bertemu. Pada akhirnya, syukur atas rahmat Allah lah yang menjadi hiasan.
 
-Mohon maaf jika tulisan masih banyak kesalahan dan kekurangan dari berbagai segi. Terimakasih untuk orang yang telah bersedia membagi pengetahuannya dan maaf jika mungkin ada yang tidak sesuai yang pemilik ide awal miliki. 
Semoga tetap dapat menyampaikan hal yang bermanfaat, karena kemanfaatan jika menyebar kepada yang lain lalu kelainnya lagi, maka semoga pahalanya menjadi pahala terus mengalir yang berkah dan tentunya pada apa yang dituliskan adalah kebenaran dan penuh dengan kemanfaatan. Semoga kesalahan dan ketidaksempurnaan pengetahuan yang ditulis dimaafkan Allah. Bukankah apa yang kita perbuat nanti di akhirat akan dipertanggung jawabkan.

Senin, 12 Januari 2015

Jangan tinggalkan aku sendiri....

7 tahun lalu...
Dua orang gadis kecil terlihat bermain bersama. Jemari keduanya masih sangat mungil. kulit mereka tidak begitu putih ataupun hitam, sawo matang, ciri khas warna kulit orang Indonesia. Sang kakak, yang berusia sekitar 4 tahun berusaha menggendong adeknya yang berusia sekitar 2 tahun. Lucu. Kata orang, mereka berdua bersama ayahnya baru datang dari Jakarta karena ibunya meninggal. Innalillahi.
 Rika, panggilan sang kakak selalu mengajak adeknya, Rindu bermain-main. Meskipun dia pendatang dan tidak begitu fasih bahasa jawa, dia berusaha berbaur dengan anak seusianya. Rika selalu menggendong adiknya ketika bermain diluar rumah. Bisa dibayangkan anak berusia 4 tahun menggendong seorang berusia 2 tahun. Susah. Tapi menyenangkan bagi Rika !
Ayah Rika hanya pekerja bangunan, dan ketika dia berada disini itu berarti dia tidak bekerja, tidak memiliki uang. Hanya mengandalkan belas kasih saudara-saudaranya mereka bisa makan disini. Bukan karena malas ayah Rika tidak mau bekerja, bukan. Tapi ayah Rika tidak bekerja karena tidak ada yang mengasuh Rika dan Rindu. Itu juga alasan mereka untuk kembali ke kampung halaman.
Tidak banyak yang tahu kenapa Ibu Rika meninggal, dan ketika Rika yang berusia 4 tahun itu ditanya banyak orang, yang dia tahu ibunya sakit, lalu meninggal. Tapi dibalik itu semua ini semua takdir Allah.
Banyak yang kasihan kepada Rika dan adeknya. dan banyak pula tetangga-tetangga memberikan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk Rika dan Rindu. Mereka juga sering memberikan sedikit uang untuk jajan.
Rika dan Rindu yang masih anak-anak menikmati semuanya. bermain. Tidak banyak yang mereka mengerti saat ini. Mungkin kadang yang membuat mereka sedih, mereka tidak bisa memiliki baju yang bagus seperti kebanyakan temannya, tidak memiliki banyak mainan, dan tidak memiliki ibu yang menyuapi mereka untuk makan....
Dua tahun pertama sangat menyenangkan bagi mereka. Memiliki banyak teman baru. ya meskipun kadang ada yang menganggunya tapi masih banyak teman baik yang juga mau berbagi mainan untuk dipinjamkan. Sudah sekitar setahun Ayah Rika bekerja serabutan. Alasannya melihat Rika yang sudah mampu mengasuh adiknya dan juga untuk kebutuhan Rika dan Rindu. Dan setelah dua tahun tinggal disini, Ayahnya berpikir untuk kembali ke Jakarta. Ya, hanya dengan itu bisa menghidupi Rika dan Rindu dengan layak nantinya. Bisa bersekolah, memakai seragam, sepatu, tas.
Tahun berikutnya, setelah Ayah Rika berpikir keras selama setahun, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Hari pertama kepergian ayah membuat Rika sangat murung. Dia hanya bisa menangis. Memang saat ini dia bahagia bisa sekolah seperti temannya yang lain,tapi dia lebih rela tidak bersekolah asal bisa tetap bersama ayah.. dan Rindu.
Kemarin ayah dengan berat hati menjelaskan bahwa ia harus kembali ke Jakarta biar Rika dan Rindu bisa hidup layak, bisa bersekolah. Ayah akan membawa Rindu, karena tidak mungkin Bude merawat Rika dan Rindu sekaligus. Dan Rika disini harus bersekolah yang rajin.
Itulah pesan beliau saat terakhir kali Rika merasakan pelukan ayah. Dia ditinggalkan. Sendiri. Sampai sekarang.
---
Apa ada yang pernah merasakan berada diposisi Rika atau  Rindu? atau mungkin membayangkan kisah yang mirip seperti itu?
Hmm.. jika belum, mungkin karena kamu terlalu menutup diri, atau mungkin kamu terlalu sibuk dengan urusanmu, atau mungkin kamu merasa memiliki masalah yang lebih besar, benar tidak?
kisah Rika dan Rindu tidak imajinasi atau fiksi yang biasa dibuat di sinetron. Dia ada. Nyata.
Bagaimana jika kalian berada diposisi Rika? umur 4 tahun, disaat teman sepantarannya disuapin ibunya, dia malah yang harus menyuapi adiknya. Umur 7 tahun dia harus bertahan sendiri, jauh, tanpa Ayah dan adik. Iya meskipun ada banyak saudara yang berada disekitarnya, pastilah kasih sayang yang dirasakan berbeda jika bersama orangtua sendiri kan? 
Apa kalian yang sekarang merasa memiliki masalah yang sangat besar mau ditukar dengan yang Rika hadapi dulu? tidak kan? 
Jangan mengeluh ! Seberat apapun masalah kita Allah lebih tau porsinya. 
satu mantra yang kadang menguatkan ketika aku merasa sangat lelah, 
"Tuhan-ku lebih Besar dari masalahku"

Rika... Apapun yang telah dan akan kamu hadapi, semoga akan menjadikanmu anak yang sholehah. Semoga kamu akan menjadi anak yang beruntung dimasa depanmu :)

Sabtu, 10 Januari 2015

Keberkahan waktu...

Tulisan kali ini berasal dari  broadcast yang saya dapatkan. Tapi tidak ada salahnya, karena menurut saya ilmu yang berkah adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Dan ilmu dapat bermanfaat bagi orang lain itu ketika kita membaginya.
Kasus 1
A : Minggu depan nonton yuk..
B : Ayook....
A : Emmm tapi bukannya udah mau ujian ya
B : Kan nonton sekali-sekali, belajarnya masih bisa di waktu lain kok
--
A : Eh Minggu depan ngaji yuk...
B : Waduh maaf nih ujian semester udah deket
A : Ngajinya sebentar kok
B : Emmm... tapi masih banyak banget materi ujian yang belum paham
Kasus 2
A : (via phone) Sob maaf gerimis nih, maen futsalnya minggu depan aja ya
B : Yaelah cuma gerimis kecil, entar kujemput pake mantel
--
A : (Via phone) jadi ikut ngaji hari ni?
B : Aduh kayaknya cuaca ga dukung nih, udah mulai gerimis
A : kujemput pake mantel ya..?
B : Emmm... ga usah, lagian ga nyaman nanti ngajinya kalo bajunya agak basah-basah gitu
Kasus 3
A : Pokoknya aku harus bisa wisata keliling nusantara, korea, dan jepang
B : jauh amat wisatanya?
A : Iya dong, kalo mau liat tempat indah memang harus jauh melangkah
--
B : Besok ikut pengajian yuk
A : Dimana?
B : Itu, di masiid samping kampus kita
A : Wah jauh amat...
Kasus 4
A : hari minggu shoping yuk
B : Ayuk pas banget nih
A : eh tapi hari minggu kan jadwalnya dirimu beres-beres rumah
B : Tenang aja, hari lain juga bisa kok.
--
A : Minggu ngaji yuk
B : Kalo minggu jadwal aku beres-beres rumah
A : Beres-beresnya hari lain aja, entar aku bantuin
B : Hari lain aku sibuk
Lihat pintarnya setan meniupkan alasan ketika kita hendak dekat pada ilmu Allah, dan ketika untuk urusan dunia alasan itu entah hilang kemana.
APAKAH KITA ORANG SIBUK ???
Ada seorang ulama berguru kepada seorang ulama  Selang beberapa lama, saat dia ingin
melanjutkan belajar ke guru lain.gurunya berpesan :
"Jangan tinggalkan membaca Al Qur’an ,Semakin banyak baca Al Qur’an urusanmu semakin mudah"
Dan muridnya pun melakukan. Dia membaca Al Qur’an 3 juz per hari. Dia menambahkan hingga 10juz per hari. Dan urusannya semakin mudah. Allah yang mengurus semua urusannya. Waktu pun semakin berkah.
Apa yang dimaksud dengan berkahnya waktu?
Bisa melakukan banyak hal dalam waktu sedikit. Itulah berkah Al Qur’an . Al Qur’an membuat kita mudah mengefektifkan manajemen waktu. Bukan kita yang atur waktu kita, tapi Allah. Padahal teorinya orang yang membaca AlQur’an menghabiskan banyak waktu. mengurangi jatah kegiatan lain, tapi Allah yang membuat waktunya itu jadi berkah. Hingga menjadi begitu efektif.Hidup pun efektif.Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah dan kebaikan pada kita karena Al Qur’an .
Salah satu berkahnya adalah membuka pintu kebaikan, membuka kesempatan untuk amal shalih berikutnya. Dan Salah satu balasan bagi amal shalih yang kita lakukan adalah kesempatan untuk amal
baik berikutnya. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu Dan sebaliknya waktu yg selalu sibuk shg hanya habis untuk urusan dunia yg terserak, bisa jadi itu adalah tandanya ada yg salah dlm hidup kita,
Barangsiapa yg bangun di pagi hari dan hanya dunia yg di pikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat HAK ALLAH dalam dirinya, maka ALLAH akan menanamkan 4 macam penyakit padanya :
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya.
3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi.
4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya.
[Hadits Riwayat Muslim]
Note :
"Keberkahan waktu yaitu bisa melakukan banyak amal kebaikan dalam waktu sedikit"

Mari saling berbagi ilmu , saling mengingatkan, dan saling berlomba dalam kebaikan :)

Kamis, 01 Januari 2015

Sebuah senyuman



Mentari  selalu menghangatkan. Mencairkan kebekuan yang ada disekitarnya. Mentari memiliki sebuah pohon yang selalu membantunya. Bukan membantu, tapi mengajarkannya untuk berbuat kebaikan saat mentari belum memiliki pengetahuan.
Dulu, pohon selalu memperlihatkan kepada mentari tentang senyuman orang lain. Yang sering mentari lihat, pohon sering mematahkan rantingnya untuk orang lain meskipun dia sendiri kesakitan. Lalu mentari bertanya, “Pohon kenapa kamu mematahkan rantingmu pasti itu sakit bukan?”
Pohon pun menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku lebih kesakitan ketika melihat nenek itu jatuh terpleset karena tidakmemiliki pegangan.”
“Nenek itu bisa memegang tembok ataupun kayu-kayu itu tanpa membawanya. Aneh.”
Sang nenek pun senang menemukan ranting yang kebetulan jatuh didepannya.
Lalu pada hari berikutnya, pohon dengan sengaja mengulurkan daunnya kebawah. Dan ibu yang dengan menggendong tas kresek itu meraih dan memasukan daun-daunnya.
Mentari pun bertanya, “Pohon, apa yang kamu lakukan? Itu bisa membuatmu mati.”
“Tidak. Sama sekali tidak. Daunku pasti akan tumbuh lagi. Dan kalaupun tidak, aku lebih sedih jika melihat ibu itu pulang dengan kresek kosong dengan anaknya yang menunggunya dirumah kelaparan.”
“ah kamu ini terlalu keras kepala.”
Lalu dikemudian hari pohon menjatuhkan sebuah buah dan beberapa tupai dan burung mengerubungi buah yang jatuh itu,
“pohon, apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu tidak akan bisa mempunyai keturunan jika burung-burung itu memakan isinya?”
“tidak, sama sekali tidak. Aku masih mempunyai banyak buah dan biji. Sekalipun burung-burung itu menghabiskannya, yang terpenting aku masih bisa melihat mereka bermain dan bernyanyi.
Lalu di hari berikutnya, pohon melihat dua orang anak kecil bermain main, dan pohon dengan sengaja memekarkan bunganya. Dan dua orang anak itu memetiknya. Namun kali ini mentari tidak bertanya dan membuat pohon heran.
“mentari, kenapa kamu tidak bertanya?”
“tidak. Aku capek bertanya. Kamu terlalu keras kepala.”
“Hahaha.... begini mentari. Apa kamu memerhatikan wajah dua anak kecil tadi? Atau burung-burung dan tupai itu? Atau ibu-ibu yang membawa kresek? Atau mungkin nenek-nenek yang dulu itu?”
“tidak. Tidak ada yang istimewa dengan wajah mereka.”
“Ada. Senyuman. Mereka selesai mengambil apa yang aku jatuhkan pasti akan tersenyum. Aku tidak butuh ucapan terimakasih karena itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku. Tapi dengan melihat mereka tersenyum, itu akan dilihat Allah sebagai doa untukku.”
“Hmmm...” mentari pun murung.
“ada apa mentari?”
“lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? aku tidak memiliki apapun untuk mereka seperti kamu pohon”
“tidak. Kamu memilikinya dan lebih dari yang bisa aku berikan. Kamu hanya perlu Teruslah bersinar dan menghangatkan. Dan seisi bumi ini akan selalu mendoakanmu”

Pohon-ku, meskipun tidak banyak mata melihatmu, atau pun tidak banyak mulut yang mengucapkan pujian ataupun terimakasih, aku percaya Allah selalu mencatatnya. Maaf telah banyak bertanya. Maaf telah sering meminta untuk berhenti membuat orang lain tersenyum. Semoga Allah selalu menyayangimu dan melindungimu, Bapak.